guru kencing berdiri, murid kencing berlari

perlombaan merupakan tempat unjuk prestasi, kreasi, dan inovasi. sungguh ironis ketika perlombaan dijadikan sebagai ajang unjuk kekerasaan.
sebuah perlombaan yang diadakan oleh sebuah organisasi, termasuk di dalamnya adalah perlombaah futsal. kegiatan ini di setting di lapangan madukara dengan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan.
dalam pertandingan olaharaga menjungjung nilai sprotifitas merupakan hal vital dalam rangka mewujudkan pertandingan dengan hasil yang optimal. dalam hal sepak bola sliding tackle, body charge, merupakan hal wajar, yang tidak wajar yakni dilakukan dengan maksud untuk mencederai lawan. peserta pertandingan seharusnya tahu dan sadar akan hal ini. berbagai teknik untuk menghadang lawan sering berujung dengan body charge. ironisnya seorang peserta dan merupakan panutan bagi peserta didiknya tidak menyadari bahwa body charge dalam sepak bola itu tidak biasa, ketika lawan bergesekan dengan dirinya ia menganggap bahwa itu adalah pelanggaran yang keras dan disengaja, lebih parah lagi orang itu MENGHANTAM lawannya dengan BOGEM MENTAH ironis bukan orang yang notabene guru (guru kencing berdiri, guru kencing berlari) melakukan hal tersebut?
pantas saja kalau negara tercinta ini penuh dengan kekerasan, seorang tenaga profesional yang bertugas untuk mengajar dan mendidik memberikan contoh seperti ini. BAGAIMANA SOLUSINYA KITA TUNGGU SAJA NANTI....

mitra usaha akses+ bersama BPRKS

mitra usaha bersamam akses+ dan BPRKS

sejak saat ini aku mulai bergabung untuk jadi mitra usaha bersama akses plus dan bprks. aku sih jadi rekanan dengan keponakan, tapi bukan hal mudah untuk mengembangkan mitra usaha ini.
modal merupakan hal yang mendasar dalam suatu usaha. modal pertama adalah keberanian untuk memulai usaha ini, selanjutnya merealisasikan bergabung dengan mitra usaha akses plus dengan mas kawin sebesar delapan ratus ribu rupiah untuk mendapatkan layanan internet bankking (IB), dengan deposito pertama sebesar dua ratus ribu rupiah, itu masih belum mencukupi untuk usaha seperti ini, namun apadaya kemampuan modal usaha hanya sebesar ini tidak menjadi hambatan bagi diriku.
langkah selanjutnya adalah mengembangkan usaha ini. pengembangan usaha adalah yang paling sulit sebab diantara rutinas menjadi seorang tenaga pengajar di sebuah sekolah swasta harus terbagi lagi dengan bisnis mikro ini.
langkah selanjutnya masih belum terbanyangkan mohon doa restu dan bimbingan nya sajah untuk semua orang yang membaca pstingan ini.

terima kasih ...
PERBEDAAN PUISI LAMA DENGAN PUISI MODERN

PUISI LAMA

1. merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal nama pengarangnya,
2. merupakan sasatra lisan (disampaikan dari mulut ke mulut),
3. terikat oleh aturan, seperti jumlah baris, bait, dan rima.




PUISI MODERN

1. sudah dikenal nama pengarannya, seperti "Aku" karya Chairil Anwar,
2. sudah tidak terbatas pada media lisan, tapi sudah sampai pada media tulis,
3. tidak terikat oleh aturan seperti jumlah baris, bait, atau rima.
PEMBAKUAN BAHASA

Pengertian Bahasa Baku
Bahasa baku adalah ragam bahasa yang secara sosial lebih digandrungi sering kali berdasarkan pada ujaran orang-orang yang berpendidikan di dalam dan di sekitar pusat kebudayaan dan/atau politik suatu masyarakat ujaran (Hartmann dan Stork, 1972:218)
Bahasa baku adalah suatu bahasa yang memiliki keistimewaan sastra dan kultural melebihi dialek-dialek lainnya dan disepakati para penutur dialek-dialek lain sebagai bentuk bahasa yang paling sempurna (Pei dan Bainor, 1954:203)
Bahasa baku adalah ragam ujaran suatu masyarakat bahasa yang disyahkan sebagai norma keharusan bagi pergaulan sosial atas dasar kepentingan-kepentingan dari pihak-pihak dominan dari masyarakat itu.
Tindakan pengesahan norma itu dilakukan lewat pertimbangan-pertimbangan nilai yang bermotivasi sosiopolitik (Dittman, 1976:80)
Kutipan-kutipan diatas menjelaskan kepada kita semua bahwa bahasa baku adalah satu ragam (variasi) bahasa juga bernasib baik, dipakai oleh kelompok penutur tertentu (pengacara, ilmuwan, pengajar, pengarang, dan sebagainya) yang biasa bermukim di pusat-pusat kebudayaan, politik, pendidikan, dan ekonomi.
Maka tidak menghrankan kalu banyak orang yang mengasosiasikan bahasa dengan orang-orang yang tinggal di kota atau orang-orang terpelajar.

Proses Pembakuan Bahasa
Pembakuan bahasa adalah suatu proses yang berlangsung secara bertahap tidak terjadi sekali jadi. Pembakuan adalah sikap masyarakat terhadap satu ragam bahasa, dan dari psikologi sosial kita mengetahui bahwa sikap masyarakat akan suatu proses tidak sebentar.
Tahap-tahap proses standarisasi sebagai berikut :
1. Pemilihan (selection)
Suatu variasi atau dialek tertentu akan dipilih utuk kemudian dikembangkan menjadi bahasa baku. Ragam atau variasi tersebut bisa berupa suatu ragam yang telah ada misalnya, yang dipakai dalam kegiatan-kegiatan politik, ekonomi, sosial, dan bisa merupakan campuran dari berbagai ragam bahasa yang ada.
Sebenarnya banyak dasar atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan atau memilih sebuah ragam menjadi bahasa baku, antara lain:
a. Otoritas
Maksudnya penentuan baku atau tidak baku berdasar kepada orang dianggap ahli atau pada kewenangan buku tata bahasa atau kamus. Dasar otoritas pada umumnya manusia belum merasa puas bahwa yang dikerjakan atau dikatakannya itu benar. Apa yang dilakukan seseorang untuk mengetahui benar tidaknya atau baku tidaknya suatu bentuk ujaran dengan mengacu kepada pemegang otoritas tetapi perlu diingat dasar otoritas ini ada bahanya. Bisa saja tata bahasa dan kamus yang digunakan sudah kadaluarsa atau tidak cocok lagi dengan keadaan sekarang.
b. Bahasa Penulis Terkenal
Menurut Alisyahbana (dalam Robin, 1997) mengatakan bahasa dari para penulis terkenal sebaiknya digunakan untuk menjadi bahasa yang baik, tetapi ada kelemahan-kelemahan jika bahasa para penulis dijadikan bahasa, yaitu :
1) Bahasa itu bukan hanya bahas tulis saja, tetapi ada bahasa lisan,
2) Siapa yang bisa menjamin bahasa penulis-penulis terkenal telah menguasai aturan-aturan tata bahasa dengan baik,
3) Apakah bahasa penulis-penulis terkenal masih sesuai dengan keadaan sekarang.
c. Demokrasi
Dasar demokrasi maksudnya, menentukan bentuk dasar yang benar dan tidak benar atau baku dan tidak baku. Tentunya kita harus menggunakan data statistik, dasar demokrasi tidak dapat digunakan untuk menentukan keputusan-keputusan kebahasaan.
d. Logika
Dasar logika maksudnya, dalam penetuan baku atau tidak baku digunakan pemikiran logika. Bisa diterima akal atau tidak, dasar logika tidak dapat digunakan untuk menentukan kebakuan bahasa sebab sering kali benar atau tidak benar struktur bahasa tidak sesuai dengan pemikiran logika, umpamanya dalam kalimat “Dia menggali lubang” padahal menurut logika yang digali adalah tanah bukan lubang. Secara linguistik tentu dapat dicari alasan akan keberterimaan kalimat tersebut. Begitu juga dengan persoalan konstruksi tetapi memiliki makna gramatikal yang berbeda, seperti anak asuh yang bermakna anak yang diasuh dan ibu asuh yang bermakna ibu yang mengasuh. Dimana letak logikanya sehingga kedua kontruksi itu memiliki makna yang berbeda.
e. Bahasa Orang-Orang Yang Dianggap Terkemuka Dalam Masyarakat
Penuturan baku atau tidak bakunya suatu bentuk bahasa didasarkan pada bahasa orang-orang terkemuka seperti pemimpin, wartwan, pengarang, guru, dan sebagainya. Mengapa harus berdasar kepada bahasa mereka? Karena mereka semua dianggap orang-orang yang paling banyak mempunyai kesempatan untuk mendatangi masyarakat dan paling berpeluang untuk selalu menggunakan bahasa.

2. Kodifikasi (codification)
Asal kata dari code, kata kerjanya to to codity, kata bendanya codification, yaitu hal memberlakukan suatu kode atau aturan kebahasaan untuk dijadikan norma dalam berbahasa oleh masyarakat, kodifikasi ini meliputi :
a. Ortografi
b. Pengucapan atau lafal
c. Tata bahasa
d. Peristilahan
Badan atau lembaga tertentu biasanya ditunjuk untuk terlaksananya kodifikasi ini. Lembaga ini menysun kamus, buku tata bahasa dengan berpedoman pada kode atau variasi yang akan dimasyarakatkan, sehingga setiap orang mempunyai acuan aturan bahasa yang benar.


3. Penjabaran fungsi (elaboration of function)
Apa yang dikodifikasikan itu tidak akan memasyrakat tanpa adanya penjabaran fungsi ragam yang sudah standar. Peran pemerintah sangat luar bisa dalam penjabaran fungsi ini. Pemakaian bahasa di parlemen, pengadilan, pendidikan, dan berbagai literatur lainnya sangat menunjang proses dimaksud. Demikian pula guru, pengarang, wartawan, penyair, dan sebagainya mempunyai andil penting dalam pemasyrakatan bahasa baku, pada kenyataanya proses elaborasi fungsi ini akan melibatkan pemasyarakatan hal-hal ekstralinguistik seperti pembiasaan, format atau bentuk surat, atau dalam penyusunan teks, dan lain sebagainya.
4. Persetujuan (acceptance)
Ini adalah tahap akhir dari proses pembakuan bahasa. Pada akhirnya ragam bahasa ini meskti disetujui oleh anggota masyarakat ujaran sebagai bahasa nasional mereka, maka bahasa standar ini mempunyai kekuatan untuk mempersatukan bangsa dan mennjadi symbol kemerdekaan dan menjadi cirri pembeda dari Negara-negara lain. Dengan lahirnya sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dan Pasal 6 UUD 1945 Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional.
Sebagai bahasa nasiona, Bahasa Indoensia memiliki empat fungsi dalam Negara Indonesia yaitu :
a. Lambang Kebangsaan Negara,
b. Lambang identitas Nasional,
c. Alat pemersatu berbagai suku bangsa, dengan latar belakang social budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia.
d. Alat penghubung antara daerah dan antar budaya.

Penggunaan Bahasa Baku
Dewasa ini otoritas untuk pembakuan Bahasa Indonesia ada pada lembaga. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang bernama Pusat Bahasa).
Maka dalam proses pembakuan Bahasa Indonesia sudah seharusnya lembaga ini mencari dan mengumpulkan data, menganilis, mengatur, dan menyusun kaidah-kaidah lalu menyebarluaskan kepada masyarakat.
Untuk leberhasilan usaha pembakuan bahasa, perlu adanya dukungan dari berbagai sarana antara lain :
1. Pendidikan
Pendidikan merupakan tempat untuk menyebarluaskan pengembangan dan penyebaran bahasa baku, juga merupakan salah satu sarana yang paling tepat untuk menghidupkan eksistensi bahasa baku.
2. Industri Baku
Melalui buku ragam bahasa baku (tulis) dapat ditampilkan sehingga proses pembakuan bahasa akan lebih cepat tercapai.
3. Perpustakaan
Tidak adanya perpustakaan berarti hilangnya kesempatan banya orang untuk menggunakan bahasa baku. Penyebaran dan pengembangan bahasa baku tidak dapat dilepaskan dari keberadaan perpustakaan.
4. Administrasi Negara
Kelangsungan eksistensi bahasa baku dapat terjamin dengan adanya administrasi Negara yang rapi, tertib dan teratur. Administrasi yang kacau, tidak teratur dapat merusak kelangsungan eksistensi bahasa baku sebab salah satu tempat digunakannya bahasa baku adalah pada administrasi kenegaraan.
5. Media Massa
Surat kabar dan majalah merupakan sarana bacaan yang paling banyak mendekati masyarakat. Maka tersedianya media massa baik tulis maupun elektronik akan menjamin tercapainya pembakuan bahasa yang lebih luas.
6. Tenaga
Tidak adanya, atau kurangnya tenaga kebahasaan ini akan menyulitkan proses pembakuan bahasa,maka alangkah baiknya bila ada pada tempat, situasi tertentu tersedianya kebahasaan sehingga memudahkan masyarakat memperoleh informasi kebahasaan.
7. Penelitian
Tanpa adanya penelitian yang terus menerus di bidang kebahasaan, usaha pengembangan dan pembakuan bahasa tidak akan mencapai kemajuan.
Fungsi Bahasa Baku
Fungsi bahasa baku menurut Gravin dan Mathiot (1986 : 785-787) yang bersifat social politik yaitu :
1. Fungsi pemersatu
2. Fungsi pemisah
3. Fungsi harga diri
4. Fungsi kerangka acuan

1. Fungsi pemersatu (The Unifying Function)
Fungsi pemersatu adalah kesanggupan bahasa baku untuk menghilangkan perbedaan variasi dalam masyarakat dan membuat terciptanya kesatuan masyarakat tutur, dalam bentuk minimal, memperkecil adanya perbedaan variasi dialektikal dan menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya.
2. Fungsi pemisah (Separatist Function)
Fungsi pemisah adalah bahwa ragam bahasa baku dapat memisahkan atau membedakan penggunaan ragam bahasa untuk situasi formal dan non formal. Para penutur harus bisa menentukan kapan dia harus menggunakan ragam bahasa baku dan kapan tidak menggunakannya. Jika penutur tidak dapat memisahkan fungsi ragam bahasa baku dari non baku, akan terjadi masalah social.
3. Fungsi harga diri (Prestige Function)
Adalah bahwa pemakaian ragam bahasa baku akan memiliki perasaan harga diri yang lebih tinggi daripada yang tidak dapat menggunakannya, sebab ragam bahasa baku biasanya tidak dapat dipelajari dari lingkungan keluarga atau lingkungan masyarakat. Ragam bahasa baku hanya dapat dicapai melalui pendidikan formal. Fungsi bahasa disini sesuai dengan pendapat Fishman (1970) yang mengatakan bahwa ragam bahasa baku mencerminkan cahaya kemuliaan, sejarah, dan keunikan, seluruh rakyat. Ragam bahasa baku merupakan lambang atau symbol suatu masyarakat tutur.
4. Fungsi kerangka acuan (Frame Of Reference Function)
Adalah bahwa ragam bahasa baku akan dijadikan tolok ukur untuk norma pemakaian bahasa yang baik dan benar secara umum.
Keempat fungsi diatas dapat dilakukan oleh sebuah ragam bahasa baku kalau ragam bahasa baku itu telah memiliki tiga ciri yang sangat penting, yaitu
1. Memiliki ciri kemantapan yang dinamis,
2. Memiliki ciri kecendikiaan,
3. Memiliki ciri kerasionalan.

1. Memiliki ciri kemantapan yang dinamis
Berupa kaidah atau aturan yang tetap. Ciri kematapan ini dapat diusahakan dengan melakukan kodifikasi bahasa terhadap dua aaspek panting yaitu,
a. Bahasa menurut situasi pemakai dan pemakaiannya,
b. Berkenaan denga strukturnya sebagai sautu system komunikasi
Kedua aspek tersebut menghasilkan kumpulan kaidah yang berkenaan dengan struktur bahasa. Yang bersifat dinamis artinya mempunyai kemungkinan untuk berubah dalam jangka waktu tertentu, sebab secara teoritis tidak ada bahasa yang statis.
2. Memiliki ciri kecendikiaan
Ciri ini harus diupayakan agar bahasa itu dapat digunakan untuk membicarakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kehidupan modern. Kecendikiaan dapat dilakukan dengan memperkaya kosakata, dalam segala bidang kegiatan dan ilmu.
3. Memiliki ciri kerasionalan
Bahasa itu harus tampak dalam penggunaan bahasa di bidang kosakata maupun struktur sintaksis. Kerasionalan bahasa baku sangat tergantung pada kecendikiaan penutur untuk menyusun kalimat yang secara logika dapat diterima isinya.
silahkan posting disiniFaktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau segala sesuatu yang yang diketahui berkenaan dengan suatu hal (KBBI, 2007). Dengan demikian ilmu pengetahuan adalah pengetahuan suatu bidang berdasarkan hasil tahu. Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar. Pengetahuan Ilmiah atau Ilmu (Science) pada dasarnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan sehari-hari yang dilanjutkan dengan suatu pemikiran cermat dan seksama dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu Pengetahuan semakin berkembang pesat pada era informasi dewasa ini, baik dalam jumlah maupun jenis, dalam kapasitas maupun kualitas. Makin tersebarnya tekhnologi dan makin mudahnya akses informasi membuat Ilmu Pengetahuan semakin merata diantara manusia. Tak terelakan bahwa dengan terus berkembangnya tekhnologi itu, sangatlah terasa Ilmu Pengetahuan kini amat berlimpah. Setiap kali ada perkembangan ilmu pengetahuan, kita segera mengetahuinya. Hal-hal yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut :
1. Rasa ingin tahu dan sikap kritis
Salah satu sifat manusia adalah cenderung ingin tahu, dan pengetahuan manusia tersebut mempunyai tujuan tersendiri, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup;
b. Mengembangkan arti hidup;
c. Mempertahankan kehidupan
d. Mencapai tujuan hidup
Ilustrasi berikut menggabarkan gejala mengetahui pada manusia.
 Pada suatu saat, manusia ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya, dunia sekitarnya, orang lain, yang baik dan yang buruk, yang indah dan jelek, dan macam-macam lagi.
 Jika ingin mengetahui sesuatu, tentu ada suatu dorongan dari dalam diri manusia yang mengajukan pertanyaan yang perlu jawaban yang memuaskan keingintahuannya. Dorongan itu disebut rasa ingin mengetahui.
 Sesuatu yang diketahui manusia disebut pengetahuan. Pengetahuan yang memuaskan manusia adalah pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang tidak benar adalah kekeliruan. Keliru sering kali lebih jelek dari pada tidak tahu. Pengetahuan yang keliru dijadikan tindakan/perbuatan akan menghasilkan kekeliruan, kesalahan dan malapetaka.
 Sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada, yang mungkin ada, yang pernah ada dan sesuatu yang mengadakan. Dengan demikian manusia dirangsang keingintahuannya oleh alam sekitarnya melalui indranya dan pengalamannya.
 Hasil gejala mengetahui adalah manusia mengetahui secara sadar bahwa diatelah mengetahui maka disebutlah ilmu pengetahuan.
Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa manusia itu selalu merasa ingin tahu berkenaan dengan dirinya, alam sekitar, pertumbuhan, atau pergantian yang sedang terjadi. Misalnya, kenapa dengan adanya internet proses pengiriman surat sudah bisa diterima dengan jangka waktu yang singkat? Tentunya manusia akan mengungkap keingintahuannya dengan mengadakan penelitian terhadap masalah yang dihadapinya, sehingga memperoleh jawaban yang dapat memuaskan keingintahuannya. Dengan demikian ilmu pengetahuan berkembang.
Teori atau ilmu yang sudah ada kadang tak memuaskan, atau kebenaran teori yang ada diragukan.
2. Interaksi fakta dan teori
Ilmu pengatahuan mempunyai konsep tersendiri yaitu teori dan fakta. Teori merupakan alat ilmu pengetahuan yang memberi petunjuk untuk mengungkapkan fakta, dan fakta adalah hasil observasi yang dapat dibuktikan secara empiris, sehingga dikatakan teori dan fakta berhubungan. Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi berkat interaksi antara fakta dan teori (S. Nasution, 1991). Fungsi teori antara lain :
a. Teori mengarahkan perhatian
Teori memberikan arah kepada penelitian, membatasi fakta-fakta yang dikumpulkan, dan menentukan fakta-fakta yang relevan bagi penelitian.
b. Teori merangkum pengetahuan
Teori merangkum fakta-fakta sehingga fakta lebih mudah dipahami.
c. Teori meramalkan fakta
Teori dicoba untuk meramalkan kejadian yang akan dating dengan mempelajari kondisi-kondisi yang menuju kepada kejadian itu.
Fungsi fakta diantaranya sebagai berikut :
a. Fakta dapat merupakan alasan untuk menolak teori yang ada
Tiap teori harus cocok dengan fakta. Bila fakta tidak sesuai dengan teori yangberlaku, maka teori itu harus ditolak atau dirumuskan kemabli dengan perhitungan fakta yang tadinya belum tercakup dalam teori itu.
b. Fakta menyebabkan lahirnya teori baru
Ada kalanya suatu fakta yang diamati secara kebetulan menimbulkan teori baru.
c. Fakta member dorongan untuk mempertajam atau memperhalus rumusan teori yang telah ada.
Dalam penelitian fakta dan teori berinteraksi dan saling berhubungan. Jika teori sebagai alat dalam ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan fakta, fakta tidak sesuai dengan dengan teori maka teori harus ditolak atau dirumuskan kembali. Oleh karena adanya interaksi antara fakta dan teori ilmu pengetahuan (science) berkembang.
Jadi, sikap ingin tahu, kritis manusia dan interaksi fakta dengan teori telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.











Barang siapa ingin meningkatkan hasil untuk apa saja yang sedang ia tekuni, membutuhkan kegiatan penelitian (S.Artikunto, 1996).


Menyadari bahwa teori itu (sebagai ilmu
pengetahuan) adalah ciptaan manusia
hendaknya kita selalu kritis terhadapnya
baik dalam “kelengkapannya” maupun
“kepentingan” di balik ilmu
pengetahuan.

Ilmu atau Sains merupakan komponen terbesar yang diajarkan dalam semu astrata pendidikan. Walaupun telah bertahun-tahun mempelajari ilmu pengetahuan ilmiah tidak digunakan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari.


Tujuanmanusiamempunyaipengetahuanadalah:
1.Memenuhikebutuhanuntukkelangsunganhidup
2.Mengembangkanartikehidupan
3.Mempertahankankehidupandankemanusiaanitusendiri.
4.Mencapaitujuanhidup


PengetahuanilmiahatauIlmu, adalahpengetahuanyang diperolehdengancarakhusus, bukanhanyauntukdigunakansajatetapiinginmengetahuilebihdalamdanluas untuk mengetahuikebenarannya, tetapimasihberkisarpadapengalaman.

Pengetahuan
Ilmiah Ilmiah
•PengetahuanIlmiahatauIlmu(Science) padadasarnyamerupakanusahauntukmengorganisasikandanmensistematisasikancommon sense, suatupengetahuansehari-hariyang dilanjutkandengansuatupemikirancermatdanseksamadenganmenggunakanberbagaimetode.
•Ilmumerupakansuatumetodeberfikirsecaraobjektifyang bertujuanuntuk menggambarkandanmemberimaknaterhadapgejaladanfaktamelaluiobservasi, eksperimendanklasifikasi.
•Ilmuharusbersifatobjektif, karenadimulaidarifakta, menyampingkansifatkedirian, mengutamakanpemikiranlogikdannetral.
HAURKUNING SARENG PANTRANGANA
Di Desa Haurkuning RW. 03 Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang, nu cindekna dipangkulona Desa Haurkuning Landeuh RT.01 RW.03 Desa Haurkuning Blok Sawah Kulon, aya hiji tempat keramat anu disebut “Makam Mbah Daelum Anom.” Eta tempat teh mangrupakeun makam salah sahiji anak bungsu ti Pangeran Jaya Perkasa nyaeta “Raden Aryapati” anu disebut Mbah Dalem Anom. Ngaran Mbah Dalem Anom mimiti disebut kitu the lantaran Raden Ayapati the mangrupakeun Dalem Anu Ngora keneh tur gugurna oge tinu yuswa anu masih ngora keneh, tah ku kituna eta tempat teh disebut “Makam Mbah Dalem Anom.”

Saacana dingaranan Haurkuning, ngarana teu aya nu ngayahokeun. Kurang lewih tahun 1932 Raden Aryapati diutus ku Pangeran Jaya Perkasa pikeun jadi Dalem di daerah ieu. Raden the jelema sakti anu dibuktikeun ku iteukna anu jadi salah sahiji pusaka pikeu ngalawan musuhna, tinu bulan Rayagung poe senen “Raden Aryapati” pupus keur ngalawan pasukan penjajah keur masa kapamimpinan “Wihelminah” nyatea salah sahiji penjajah walanda, “Pusaka Iteuk” mangrupaken salah sahiji pusaka milik Raden Aryapati anu dicecebkeun pikeun nyirian yen Raden Aryapati teh parantos pupus, “iteuk” anu dicecebken rubah wujud jadi tangkal “Haur Koneng,” tah ieu kajadian teh anu asal muasalna nagaran lembur Haurkunig didinya mimitina, dugi kaayena oge ieu lembur teh nagarana masih Haurkuning.

Poe Senen atawa bulan Rayagung mangrupaken poe jeung bulan anu keramat pikeun warga masyarakat sabuderen Haurkuning. Rek dimana wae urang Haurkunig cicing, boh di luar negeri, atawana di luar kota Sumedang, eta urang Haurkuning ulah rek ngayakeun hajatan, syukuran, pepencitan, indit-inditan, jujualan, bebelian, jeung lain sajabana anu dicaram, kapercayaan ieu teh geus aya ti karuhun-karuhun Haurkuning, naon sababna poe senen jeung bulan Rayagung urang Haurkuning ulah ngalakuken hal-hal anu diluhur disebutkeun, sababna poe Senen jeung bulan Rayagung teh mangrupakeun pupusna Raden Aryapati jadi poe eta “apes” pikeun warga haurkuning, dugi ka ayeuna oge eta pantrangan teh masih diturunkeun ka anak incuna ku sepuh-sepuh Haurkuning.

A. TERJEMAHAN
HAURKUNING DAN LARANGANNYA
Di Desa Haurkuning RW. O3 Kecamatan Paseh Paseh Kabupaten Sumedang, tepatnya disebelah barat Dusun Haurkuning Landeuh RT. 01 RW. 03 Desa Haurkunig Blok Sawah Kulon, terletak sebuah tempat keramat yang disebut “Makam Mbah Dalem Anom.” Tempat itu merupakan makam salah satu anak yang paling kecil dari Pangeran Jaya Perkasa yaitu “Raden Aryapati” yang dikenal dilingkungan Haurkuning dengan nama Mbah Dalem Anom. Nama “Raden Aryapati” yang popular disebut Mbah Dalem Anom ini muncul karena Raden tersebut merupakan anak yang paling kecil dari Pangeran Jaya Perkasa dan gugur dalam usia yang masih muda ditempat ini.

Sebelum menjadi nama Haurkunig, nama daerah ini tidak diketahui namanya. Sekitar tahun 1932 Raden Aryapati yang diutus oleh Pangeran Jaya Perkasa Untuk menjadi Dalem di daerah ini. Beliau adalah orang sakti yangdibuktikan dengan pusaka Iteuknya. Pada bulan “Rayagung” hari Senin “Raden Aryapati” gugur dalam peperangan melawan pasukan masa kepemimpinan “Wihelminah” salah seorang Belanda yang berkuasa pada masa itu, “Pusaka Iteuk” merupakan salah satu senjata milik “Raden Aryapati” yang ditancapkannya sebagai tanda ia telah gugur, “Iteuk” yang menancap ditempat itu berubah menjadi sebatang bambu haurkunig, kejadian itu yang mengharuskan nama daerah ini menjadi Haurkunig, pada saat itu juga daerah ini diberi nama Haurkuning. Nama Haurkuning ini hingga sekarang dikenal sebagai Desa Haurkunig.

Hari Senin atau bulan “Rayagung” adalah hari dan bulan keramat untuk masyarakat Desa Haurkuning. Dimanapun orang asli Haurkunig berada, di luar negeri sekalipun masyarakat haurkuning berada, mereka tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, seperti bepergian ke luar kota, mengawali berdagang, mengawali bekerja, menyembelih hewan, mengadakan pesta pernikahan, syukuran, menjual-membeli sesuatu, dan hal-hal lainnya, kepercayaan seperti ini lahir diungkapkan oleh leluhur Desa Haurkunig agar kegiatan seperti itu tidak boleh dilakukan di hari Senin oleh orang Haurkuning umumnya, karena hari Senin dan Bulan “Rayagung” adalah hari “Apes” untuk orang Haurkuning, sebab ada kaitannya dengan gugurnya “Raden Aryapati” pada hari Senin Bulan “Rayagung” yang merupakan hari “Apes” bagi Raden Aryapati. Sampai saat ini para sesepuh Haurkuning masih mengakui keberadaan kepercayaan itu, termasuk mewariskannya kepada anak cucunya.
Perhatikan potongan bacaan berikut!
……
Pencuri motor itu tertangkap basah kemudian mendapat bogem mentah dari warga, sedangkan tikus kantor yang jelas-jelas melanggar hukum dibiarkan begitu saja, seharusnya mereka mendapat perlakuan yang sama ketika menginap di hotel prodeo.
…..
Disebut apa kata yang tercetak miring?


UNGKAPAN

Secara umum ungkapan adalah gabungan kata yang memberi arti khusus, atau kata-kata yang dipakai dengan makna lain dari arti yang sebenarnya.
Contoh
Ringan tangan = suka memukul
Gerak langkah = perbuatan
Gali lobang tutup lobang = pinjam sana pinjam sini
Jantung hati = kekasih

Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan, serta mendorong perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keinndahan sehingga tidak membosankan.Berdasarkan bentuknya, ungkapan dapat dirinci sebagai berikut :
1. Berdasarkan jumlah kata
a. Dua kata
Mencari ilham = mencari ide baru
b. Tiga kata atau lebih
Diam seribu bahasa = membisu
2. Berdasarkan zaman
a. Ungkapan lama
Matanya bagai bintang timur = matanya bersinar
b. Ungkapan baru
Ranjau pers = undang-undang pers
3. Berdasarankan asalnya
a. Berasal dari bahasa daerah
Anak bawang = tidak diutamakan
b. Berasal dari bahasa asing
Black sheep = kambing hitam
Berdasarkan proses pembentukannya ungkapan dibedakan atas :
1. Ungkapan berkaitan dengan anggota tubuh
otak udang = bodoh
2. Ungkapan berkaitan dengan indra
perang dingin = perang tanpa kekerasan
3. Ungkapan berkaitan dengan warna
berputih tulang = mati
4. Ungkapan berkaitan dengan benda-benda alam
kabar angin = desas-desus/berita yang belum tentu kebenarannya
5. Ungkapan berkaitan dengan nama binatang
naik kuda hijau = mabuk
6. Ungkapan berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan
naik daun = sedang populer
7. Ungkapan berkaitan dengan bilangan
setengah hati = tidak sungguh-sunguh








Bacalah wacana berikut dengan seksama dan jawab pertanyaan yang menyertainya!
Kebiasaan Lama Kurangi Sampah Plastik
Kebiasaan lama tak selalu jelek. Bahkan ada yang ramah lingkungan. Sewaktu kecil, sampai awal tahun 1980-an, kita masih terbiasa melihat nenek atau ibu-ibu tetangga ke pasar tradisional membawa tas sendiri yang terbuat dari anyaman pandan atau tas kain. Sejalan merebaknya pasar swalayan yang menyediakan tas belanja plastik sebagai layanan bagi pelanggan sekaligus promosi, kebiasaan itu menghilang. Ritual belanja memang jadi lebih praktis, namun menimbulkan masalah lain: gunungan sampah!
Padahal, tahukah Anda, plastik itu terbuat dari minyak bumi yang jumlahnya makin hari makin terbatas? Jadi “Bring your own bag.” Ini kampanye dari toko pernik interior IKEA di Singapura. Sejak Hari Bumi 22 April 2007, mereka tak lagi menyediakan tas belanja plastik. Para pelanggan diberi pilihan membawa tas belanja sendiri, beli tas belanja dari belacu dengan rancangan cantik seharga Sin $ 1,2 (setara Rp 12.000), atau membeli tas plastik seharga 5 atau 10 sen dolar Singapura, bergantung pada ukurannya. Jadi, kampanye pengurangan penggunaan plastik bukan hanya untuk mengurangi gunungan sampah, tapi juga menghemat BBM.
Di pertigaan Rawa Belong, Jakarta Barat, tiap sore hingga malam bisa kita temui warung tenda “Bubur Ayam Lumayan Bang Tatang.” Bubur nasi kental dengan tumpukan suwiran ayam ini laris manis. Tak kalah laris, cara Bang Tatang menyiapkan bubur bagi pelanggannya yang antre sampai ke luar tenda. One man show, ia menjejerkan 20 mangkuk kosong sekaligus, dengan gerakan cepat, dalam tempo 5 menit, semuanya sudah terhidang di hadapan pelanggan. “Bawa tempat sendiri, saya tak menyediakan plastik, repot dan lama melayaninya!” katanya dengan nada ketus tiap kali pelanggannya pesan untuk dibawa pulang. Sombong! Begitulah komentar pembeli yang baru pertama kali berkunjung. Tapi bila dipikir-pikir, “kesombongan” Bang Tatang adalah perilaku baik yang ramah lingkungan.
Dulu, bila ingin membeli bakso, soto, atau es kelapa muda di pojok jalan, banyak di antara kita yang membawa mangkuk sendiri. Sekarang, pemandangan semacam itu nyaris tak pernah ada. Yang umum justru banyak yang memanfaatkan kantong plastik. Idealnya, kita harus membawa rantang susun sendiri bila membeli makanan untuk dibawa pulang dari restoran. Tindakan ini untuk mengurangi sampah styrofoam dan plastik. Bukankah sekarang, wadah makanan banyak yang dirancang cantik? Dijamin tak bakal bikin malu.
Kampanye penggunaan tas bukan plastik sendiri sebenarnya sudah cukup lama ada di Indonesia. Pusat perkulakan Makro, misalnya, saat mulai beroperasi di Indonesia tak menyediakan tas belanja. Pelanggan dipersilakan mengangkut belanjaan dalam kemasan karton aslinya, sedangkan perusahaan tata rias The Body Shop sempat mengadakan kampanye Reuse Reduce Recycle dengan memberikan potongan harga bagi pelanggannya, yang mengisi ulang produk dengan membawa wadah lama. Namun, kurangnya peminat membuat The Body Shop mengubah strategi. Tak lagi menerima wadah lama, tapi mengganti bahan wadah dengan materi yang lebih cepat terurai di alam. Untuk mengurangi gunung sampah plastik dan menghemat BBM, kembalilah pada kebiasaan lama, membawa wadah sendiri untuk jajanan dan belanjaan kita.
(Sumber: Intisari, Juli 2007)

1. Daftarkanlah ungkapan yang bergaris bawah dalam wacana di atas ke dalam tabel, dan tentukanlah maknanya!

No. Ungkapan Makna
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Skor Perolehan : ……….

Nilai : Catatan :




























Kunci jawaban
No. 1
Ungkapan Makna
1. Ritual belanja
2. Gunungan sampah
3. Bring your own bag
4. Laris manis
5. One man show
6. Ramah lingkungan
7. Pojok jalan
8. Reuse Reduce Recycle Kegiatan belanja
Tumpukan sampah
Bawa tas sendiri
Laku
Pertunjukan seseorang
Menjaga lingkungan
Pinggir jalan
Mereduksi daur ulang

No. 2
Jawaban
a.
b.
c.
d.
e.

f.
g.
h.
broken home bermakna rumah tangga berantakan
human eror bermakna kesalahan manusia
bogem mentah bermakna pukulan
biang keladi bermakna penyebab kekacauan
kejahatan kerah putih bermakna kejahatan tanpa kekerasan yang dilakukan eksekutif (korupsi)
hotel prodeo bermakna penjara
perang urat saraf bermakna adu mulut (beradu argumen)
semata wayang bermakna anak satu-satunya
BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Karya tulis adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.
Tujuan pembuatan karya tulis adalah melatih mahasiswa untuk mengambil intisari dari mata kuliah atau ceramah yang diajarkan.
Karya tulis ada yang berbentuk ilmiah dan non-ilmiah. Contoh karya tulis ilmiah yaitu skripsi, tesis, disertasi dan lain-lain. Sedangkan karya tulis non-ilmiah yaitu cerpen, puisi, dan, lain-lain.
Disebutkan di atas bahwa contoh karya ilmiah adalah skripsi yang lahir berkat adanya penelitian. Penelitian merupakan science guna mencari jawaban terhadap permasalahan, objek penelitian adalah masalah. Kegiatan penelitian dapat melahirkan, menolak memperkuat atau memperhalus teori dan fakta mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.
Karya ilmiah, masalah, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan merupakan permasalahan yang akan diuraikan secara mendalam dalam makalah ini.

1.2Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah yang penulis ambil adalah :
1.Apa yang dimaksud dengan karya ilmiah?
2.Faktor-faktor apa yang mempengaruhi ilmu pengetahuan?
3.Apa yang dimaksud dengan masalah dalam penelitian karya ilmiah?

1.3Tujuan Penulisan
Tujuan penulis setelah melihat rumusan masalah di atas adalah :
1.Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Panduan Penulisan Karya Ilmiah STKIP UNSAP Sumedang.
2.Untuk memperoleh informasi dan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang Panduan Penulisan Karya Ilmiah.

1.4Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :
1.Bagi penulis, yaitu untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Panduan Penulisan Karya Ilmiah.
2.Bagi STKIP Sebelas April Sumedang, menambah literatur perpustakaan STKIP.

BAB II
KARYA ILMIAH, MASALAH, DAN ILMU PENGETAHUAN

2.1KARYA ILMIAH
Pengertian Karya Ilmiah
Ada berbagai definisi tentang karya ilmiah sebagai berikut :
1.Dalam buku yang di tulis Drs.Totok Djuroto dan Dr. Bambang Supriyadi disebutkan bahwa karya ilmiah merupakan serangkaian kegiatan penulisan berdasarkan hasil penelitian, yang sistematis berdasar pada metode ilmiah, untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang muncul sebelumnya.
2.Menurut Brotowidjoyo, karya ilmiah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut Metodologi penulisan yang baik dan benar.
3.Menurut Hery Firman, karya ilmiah adalah laporan tertulis dan ai publikasikan dipaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang teliah dilakukan oleh seorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Dari berbagai macam pengertian karya ilmiah di atas dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud karya ilmiah dalam makalah ini adalah, suatu karangan yang berdasarkan penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah.
Karya ilmiah, suatu tulisan yang didalamnya membahas suatu masalah. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyedikan, pengamatan, pengumpulan data yang dapat dari suatu penelitian,baik penelitian lapangan, tes labolatorium ataupun kajian pustaka. Maka dalam memaparkan dan menganalisis datanya harus berdasarkan pemikiran ilmiah,yang dikatakan dengan pemikiran ilmiah disini adalah pemikiran yang logis dan empiris.
Karya ilmiah harus ditulis secara jujur dan akurat berdasarkan kebenaran tanpa mengingat akibatnya. Kebenaran dalam karya ilmiah adalah kebenaran yang objektif-positif, sesuai dengan data dan fakta di lapangan, dan bukan kebenaran yang normatif. Berdasarkan hal semacam ini, jelas bahwa sebuah tulisan yang disebut sebagai karya ilmiah harus memiliki persyaratan-persyaratan khusus, seperti yang disebutkan Brotowidjojo yang ditulis oleh Yunita T. Winarto Dkk, dalam bukunya karya ilmiah sosial, bahwa karya ilmiah memiliki syarat- syarat sebagai berikut :
1.Menyajikan fakta secara objektif
2.Mengemukakan segala uraian secara kejujuran
3.Disusun secara sistematis
4.Cenderung bersifat induktif.
5.Bertolak dari hipotesis tertentu.
6.Menghindari tindakan yang manifulatif .
7.Bersifat ekspositiris maupun argumentatif
Untuk memperjelas jawaban ilmiah terhadap permasalahan atau pertanyaan yang ada dalam suatu penelitian, penulisankarya ilmiah harus menggali khazanah pustaka, guna melengkapi teori-teori atau konsep-konsep yang relevan dengan permsalahan yang ingin dijawabnya. untuk itu penulisan karya ilmiah harus rajin dan teliti dalam hal membaca dam mencatat konsep-konsep serta teori-teori yang mendukung karya ilmiahnya tersebut.
Jenis Karya Ilmiah.
Pada prinsipnya semua karya ilmiah yaitu hasil dari suatu kegiatan ilmiah. Dalam hal ini yang membedakan hanyalah materi, susunan , tujuan serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah tersebut,. Secara garis besar, karya ilmiah di klasifikasikan menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian.
1. Karya iImiah Pendidikan
Karya ilmiah pendidikan digunakan tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan. Karya ilmiah pendidikan terdiri dari:
a. Paper (Karya Tulis).
Paper atau lebih populer dengan sebutan karya tulis, adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.
Tujuan pembuatan paper ini adalah melatih mahasiswa untuk mengambil intisari dari mata kuliah atau ceramah yang diajarkan oleh dosen, penulisan paper ini agak di perdalam dengan beberapa sebab antara lain, Bab I Pendahuluan , Bab II Pemaparan Data, Bab III Pembahasan atau Analisis dan Bab IV Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
b. Pra Skripsi
Pra Skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapatka gelar sarjana muda. Karya ilmiah ini disyaratkan bagi mahasiswa pada jenjang akademik atau setingkat diploma 3 ( D-3) .
Format tulisannya terdiri dari Bab I Pendahuluan (latar belakang pemikiran, permasalahan, tujuan penelitian atau manfaat penelitian dan metode penelitian). Bab II gambaran umum ( menceritakan keadaan di lokasi penelitian yang dikaitkan dengan permasalahan penelitian, Bab III deskripsi data ( memaparkan data yang diperoleh dari lokasi penelitian). Bab IV analisis (pembahasan data untuk menjawab masalah penelitian). Bab V penutup ( kesimpulan penelitian dan saran )
c. Skripsi
Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta-fakta empiris-objektif baik berdasarkan peneliian langsung (observasi lapangan ) maupun penelitian tidak langsung ( study kepustakaan) skripsi ditulis sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana S1. Pembahasan dalam skripsi harus dilakukan mengikuti alur pemikiran ilmiah yaitu logis dan emperis.
d. Thesis
Thesis adalah suatu karya ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dari pada skripsi, thesis merupakan syarat untuk mendapatkan gelar magister (S-2).
Penulisan thesis bertujuan mensinthesikan ilmu yng diperoleh dari perguruan tinggi guna mempeluas khazanah ilmu yang telah didapatkan dari bangku kuliah master, khazanah ini terutama berupa temuan-temuan baru dari hasil suatu penelitian secara mendalam tentang suatu hal yangmenjadi tema thesis tersebut.
e. Disertasi
Disertasi adalah suatu karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta akurat dengan analisis terinci.
Dalil yang dikemukakan biasanya dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan-sanggahan senat guru besar atau penguji pada sutu perguruan tinggi, desertasi berisi tentang hasil penemuan-penemuan penulis dengan menggunakan penelitian yang lebih mendalam terhadap suatu hal yang dijadikan tema dari desertasi tersebut, penemuan tersebut bersifat orisinil dari penulis sendiri, penulis desertasi berhak menyandang gelar Doktor.
2. Karya ilmiah Penelitian.
Makalah seminar.
1. Naskah Seminar
Naskah Seminar adalah karya ilmiah tang barisi uraian dari topik yang membahas suatu permasalahan yang akan di sampaikan dalam forum seminar. Naskah ini bisa berdasarkan hasil penelitian pemikiran murni dari penulisan dalam membahas atau memecahkan permasalahan yang dijadikan topik atau dibicarakan dalam seminar.
2. Naskah Bersambung
Naskah Bersambung sebatas masih berdasarkan ciri-ciri karya ilmiah, bisa disebut karya tulis ilmiah. Bentuk tulisan bersambung ini juga mempunyai judul atau title dengan pokok bahasan (topik) yang sama, hanya penyajiannya saja yang dilakukan secara bersambung, atau bisa juga pada saat pengumpulan data penelitian dalam waktu yang berbeda.
Laporan hasil penelitian
Laporan adalah bagian dari bentuk karya tulis ilmiah yang cara penulisannya dilakukan secara relatif singkat. Laporan ini bisa di kelompokkan sebagai karya tulis ilmiah karena berisikan hasil dari suatu kegiatan penelitian meskipun masih dalam tahap awal.
Jurnal penelitian
Jurnal penelitian adalah buku yang terdiri karya ilmiah terdiri dari asal penilitian dan resensi buku. Penelitian jurnal ini harus teratur continue) dan mendapatkan nomor dari perpustakaannasional berupa ISSN(international standard serial number).
Kerangka Penyusunan Karya ilmiah
Kerangka karya ilmiah terdiri dari:
1.Judul
2.Lembar Pengesahan
3.Abstrak/Ringkasan
4.Kata Pengantar
5.Daftar Isi
6.Daftar Tabel
7.Daftar Gambar
8.Daftar Lampiran
9.Daftar Istilah dan atau Daftar Singkatan [kalau ada]
10.BAB I Pendahuluan (latar belakang, identifikasi masalah, maksud dantujuan, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran)
11.BAB II Tinjauan Pustaka
12.BAB III Bahan dan Metode Penelitian (bentuk penelitian, subjek penelitian, ukuran sampel, definisi operasional, variabel penelitian, prosedur penelitian, cara pemeriksaan/pengukuran, analisis data, tempat dan waktu penelitian, jadwal penelitian, alur penelitian)
13.BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
14.BAB V Kesimpulan dan Saran
15.Daftar Pustaka
16.Lampiran



Teknik Penyusunan Karya ilmiah
Dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap antara lain.
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Pengumpulan data.
3. Tahap Pengorganisasian.
4. Tahap Pemeriksaan/ penyunting konsep.
5. Tahap Penyajian.
1.Tahap Persiapan.
Dalam tahap persiapan dilakukan:
a. Pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkan:
Topik yang akan di pilih harus yang ada di sekitar penulis.
Topik yang di pakai harus topik yang paling menarik dari topik yangada.
Pembahasan harus terpusat pada segi lingkup sempit dan terbatas.
Memilki data dan fakta yang obyektif dan mencukupi.
Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya meskipun sedikit.
Harus memiliki sumber acuan atau bahan kepustakaan yang bisa dijadikan referensi.
b.Pembatasan topik atau penentuan judul
Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah dilakukan.
Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisn karya ilmiah atau setelah selesai penulisan karya ilimiah tersebut.
Penentuan judul karya ilmiah harus dapat menjawab dari pertanyaan yang mengandungunsure 4W + 1H yakni what (apa), why (kenapa), who (siapa), where (dimana) dan how (bagaimana).
c.Pembuatan kerangka karangan (outline)
Membimbing untuk memulai menyusun kerangka karangan.
Membuat pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak menjadi tumpang tindih dalam penulisannya.
Pembuatanrencana daftar isi dari karya ilmiah.
2.Tahap pengumpulan data
a.Pencarian keterangan dari bahan bacaan atau referensi.
b.Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan dijadikan tema dalam karya ilmiah.
c.Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti dan dijadikan tema dari karya ilmiah.
d.Melakukan percobaan dilabolatorium atau pengujian data di lapangan.
3.Tahap Pengorganisasian dan pengkonsepan
a.Pengelompokan bahan untuk mengorganisasikan bagian mana yang akan temasuk dalam karya ilmiah, data yang telah terkumpul diseleksi kembali dan dikelompokan sesuai jenis, sifat dan bentuk data.
b.Pengkonsepan karya ilmiah dilakuakn sesuai dengan urutan dalam kerangka karangan yang telah ditetapkan.

4.Tahap pemeriksaan atau penyuntingan konsep (editing), tahap ini bertujuan untuk :
a.Melengkapi data yang dirasa masih kurang.
b.Membuang dan mengedit data yang dirasa tidak relevan serta tidak cocok dengan pokok bahasan karya ilmiah.
c.Mengedit setiap kata-kata dalam karya ilmiah untuk menghindari penyajian bahan-bahan secara berulang-ulang atau terjadi tumpang tindih antara tulisan satu dengan tulisan yang lain.
d.Mengedit setiap bahasa yang ada dalam karya ilmiah untuk menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh dalam penyusunan dan pemilihan kata, penyesuaian kalimat, penyesuaian paragraph, maupun penerapan kaidah ejaan sesuai EYD.
5.Tahap Penyajian
a.Teknik penyajian karya ilmiah harus dengan memperhatikan :
i.Segi kerapian dan kebersihan.
Tata letak (layout) unsure-unsur dalam format karya ilmiah, misal padahalaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka, dll.
Memakai standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, missal standar penulisan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka dan penggunaan bahasa sesuai dengan EYD.
2.2MASALAH
Pentingnya Masalah
Dalam penelitian masalah memegang peranan utama. Tanpa masalah tak ada penelitian. Masalah adalah jiwa penelitian. Masalah mendorong untuk berfikir, menyelidiki agar menemukan makna sesuatu. Masalah harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga merangsang untuk berfikir. Dalam penelitian peneliti sering panjang lebar bicara tentang latar belakang masalah, sedangkan masalah hanya disebut dalam beberapa kalimat. Justru masalah yang perlu mendapat pemikiran yang banyak agar kita pahami seluk beluknya. Tiap masalah walaupun pada mulanya tampaknya sederhana pada hakikatnya kompleks bila kita memikirkaannya secara mendalam sehingga begitu kompleksnya sehingga tak mungkin kita selidiki seluruhnya. Maka karena itu kita perlu membatasinya.
Pentingnya masalah serta rumusannya tidak dapat disepelekan karena seluruh penelitian berkisar pada masalah, berkaitan dengan masalah. Segala sesuatu yang tak ada pertaliannya dengan masalah dapat dianggap tidak relevan dan itu mubazir.
 Mencari Masalah
Masalah tidak akan diperoleh melalui ilham, akan tetapi dengan usaha misalnya memaksa diri kita menuliskan serta menganalisis sejumlah topik yang kiranya dapat kita pilih sebagai masalah penelitian kita. Memang ada kesulitan dalam menemukan topik yang tepat. Salah satu cara yang dianjurkan ialah menyediakan buku tulis khusus tempat mencatat topik-topik yang potensial dapat dijadikan masalah penelitian sewaktu perkuliahan atau membaca buku, majalah, Koran, dan sebagainya.
Masalah dapat dipilih berdasarkan pertimbangan pribadi, praktis, dan formal misalnya:
a.Apakah masalah itu penting?
Penting karena berkaitan dengan perkembangan ilmu, pembangunan nasional, pemecahan masalah sosial, dan sebagainya. Kita harus mempertanggungjawabkan pentingnya masalah yang kita teliti.
b.Apakah penelitian masalah itu dapat dan mungkin dilaksanakan?
c.Apakah data yang diperlukan dapat diperoleh?
d.Apakah peneliti sanggup melaksanakannya berhubung dengan kemampuan, latar belakang pendidikan serta biaya dan waktu yang diperlukan.
e.Apakah masalah itu sesuai dengan disiplin ilmu yang dituntut oleh peneliti, dan ketentuan-ketentuan formal dan jurusan fakultas atau universitas.
f.Apakah masalah itu baru dan belum pernah diteliti orang lain atau belum pernah dilakukan dalam kondisi yang ada di sini. Dan secara pribadi, apakah masalah itu menarik bagi peneliti.
Akan tetapi ada lagi kriteria yang bersifat ilmiah yang perlu diperhatikan, yang pada pokoknya mensyaratkan agar masalah penelitian itu memberi sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan antara lain:
a.Masalah itu hendaknya bertalian dengan konsep-konsep yang pokok.
b.Masalah itu hendaknya mengembangkan atau memperluas cara-cara mentest suatu teori.
c.Masalah itu memberikan sumbangan kepada pengembangan metodologi penelitian dengan menemukan alat, teknik, atau metode baru.
d.Masalah ihendaknya memanfaatkan konsep-konsep, teori, atau data dan teknik dari disiplin-disiplin yang bertalian.
e.Masalah itu hendaknya dituangkan dalam desain yang cermat dengan uraian yang teliti menenai variabel- variabelnya serta menggunakan metode-metode yang paling serasi.


Merumuskan Masalah
Syarat tentang rumusan masalah antara lain:
1.Masalah harus dirumuskan dengan jelas, tajam, dengan kata-kata yang tepat. Tiap kata yang digunakan harus menyatakan dengan jelas dan tepat apa yang dimaksud agar orang lain memahaminya seperti yang dimaksud tanpa penjelasan tambahan dari pihak penulis.
2.Tujuan penelitian harus jelas. Masalah “pengaruh orang tua terhadap kenakalan anak” menimbulkan pertanyaan apa yang dimaksud dengan orang tua, ayah, ibu, keduanya? Apakah semua orang tua di seluruh Indonesia yang berpuluh juta itu dijadikan popolasi? Kalaulah populasi dibatasi, bagaimana membatasinya, menurut usia, status sosial-ekonomi, dan sebagainya? Pengaruh apanya yang diselidiki, sikap orang tua, hubungannya maksud dengan kenakalan pemuda: perkelahian, pencurian, penggunaan narkotika dan sebagainya.
3.Langsung tanpa putar belit atau pendahluan panjang lebar.
Kesalahan dalam Perumusan Masalah
Dalam perumusan tujuan sering terdapat kesalahan seperti berikut:
1.Masalah terlampau luas
2.Masalah terlampau sempit
3.Masalah mengandung emosi, prasangka, atau unsur-unsur yang tak ilmiah.
Pengolahan Masalah
Berkenaan dengan masalah yang telah kita pilih perlu kita adakan pemikiran lanjut antara lain:
1.Analisis Masalah
2.Pembatasan Masalah
3.Kedudukan Masalah
4.Tinjauan Literatur
5.Corak Penelitian
6.Asumsi-asumsi
7.Pentingnya Penelitian
8.Istilah-istilah

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau segala sesuatu yang yang diketahui berkenaan dengan suatu hal (KBBI, 2007). Dengan demikian ilmu pengetahuan adalah pengetahuan suatu bidang tertentu berdasarkan hasil tahu. Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar. Pengetahuan Ilmiah atau Ilmu (Science) pada dasarnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan sehari-hari yang dilanjutkan dengan suatu pemikiran cermat dan seksama dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu Pengetahuan semakin berkembang pesat pada era tekhnologi dewasa ini, baik dalam jumlah maupun jenis, dalam kapasitas maupun kualitas. Makin tersebarnya tekhnologi dan makin mudahnya akses informasi membuat Ilmu Pengetahuan semakin merata diantara manusia. Tak terelakan bahwa dengan terus berkembangnya tekhnologi itu, sangatlah terasa Ilmu Pengetahuan kini amat berlimpah. Setiap kali ada perkembangan ilmu pengetahuan, kita segera mengetahuinya.
Dalam science teori memegang peranan penting, sangat pokok dan merupakan dasar dari science. Teori dianggap masih akan menjadi fakta, setelah terbukti kebenarannya.
Hal-hal yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut :
1)Rasa ingin tahu dan sikap kritis
Salah satu sifat manusia adalah cenderung ingin tahu, dan pengetahuan manusia tersebut mempunyai tujuan tersendiri, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.Memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup;
b.Mengembangkan arti hidup;
c.Mempertahankan kehidupan
d.Mencapai tujuan hidup
Ilustrasi berikut menggabarkan gejala mengetahui pada manusia.
Pada suatu saat, manusia ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya, dunia sekitarnya, orang lain, yang baik dan yang buruk, yang indah dan jelek, dan macam-macam lagi.
Jika ingin mengetahui sesuatu, tentu ada suatu dorongan dari dalam diri manusia yang mengajukan pertanyaan yang perlu jawaban yang memuaskan keingintahuannya. Dorongan itu disebut rasa ingin mengetahui.
Sesuatu yang diketahui manusia disebut pengetahuan. Pengetahuan yang memuaskan manusia adalah pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang tidak benar adalah kekeliruan. Keliru sering kali lebih jelek dari pada tidak tahu. Pengetahuan yang keliru dijadikan tindakan/perbuatan akan menghasilkan kekeliruan, kesalahan dan malapetaka.
Sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada, yang mungkin ada, yang pernah ada dan sesuatu yang mengadakan. Dengan demikian manusia dirangsang keingintahuannya oleh alam sekitarnya melalui indranya dan pengalamannya.
Hasil gejala mengetahui adalah manusia mengetahui secara sadar bahwa diatelah mengetahui maka disebutlah ilmu pengetahuan.
Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa manusia itu selalu merasa ingin tahu berkenaan dengan dirinya, alam sekitar, pertumbuhan, atau pergantian yang sedang terjadi. Misalnya, kenapa dengan adanya internet proses pengiriman surat sudah bisa diterima dengan jangka waktu yang singkat? Tentunya manusia akan mengungkap keingintahuannya dengan mengadakan penelitian terhadap masalah yang dihadapinya, sehingga memperoleh jawaban yang dapat memuaskan keingintahuannya. Dengan demikian ilmu pengetahuan berkembang.
Teori atau ilmu yang sudah ada kadang tak memuaskan, atau kebenaran teori yang ada diragukan.
2)Interaksi fakta dan teori
Ilmu pengatahuan mempunyai konsep tersendiri yaitu teori dan fakta. Teori merupakan alat ilmu pengetahuan yang memberi petunjuk untuk mengungkapkan fakta, dan fakta adalah hasil observasi yang dapat dibuktikan secara empiris, sehingga dikatakan teori dan fakta berhubungan. Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi berkat interaksi antara fakta dan teori (S. Nasution, 1991). Fungsi teori antara lain :
a.Teori mengarahkan perhatian
Teori memberikan arah kepada penelitian, membatasi fakta-fakta yang dikumpulkan, dan menentukan fakta-fakta yang relevan bagi penelitian.
b.Teori merangkum pengetahuan
Teori merangkum fakta-fakta sehingga fakta lebih mudah dipahami.
c.Teori meramalkan fakta
Teori dicoba untuk meramalkan kejadian yang akan dating dengan mempelajari kondisi-kondisi yang menuju kepada kejadian itu.
Fungsi fakta diantaranya sebagai berikut :
a.Fakta dapat merupakan alasan untuk menolak teori yang ada
Tiap teori harus cocok dengan fakta. Bila fakta tidak sesuai dengan teori yangberlaku, maka teori itu harus ditolak atau dirumuskan kemabli dengan perhitungan fakta yang tadinya belum tercakup dalam teori itu.
b.Fakta menyebabkan lahirnya teori baru
Ada kalanya suatu fakta yang diamati secara kebetulan menimbulkan teori baru.
c.Fakta member dorongan untuk mempertajam atau memperhalus rumusan teori yang telah ada.
Dalam penelitian fakta dan teori berinteraksi dan saling berhubungan. Jika teori sebagai alat dalam ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan fakta, fakta tidak sesuai dengan dengan teori maka teori harus ditolak atau dirumuskan kembali. Oleh karena adanya interaksi antara fakta dan teori ilmu pengetahuan (science) berkembang.
Jadi, sikap ingin tahu, kritis manusia dan interaksi fakta dengan teori telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.



BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Disemua uraian penutup yang dimuat dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang harus dicermati. Pertama , sebuah karya ilmiah sebagai mana dalam makalah ini adalah suatu pemikiran yang utuh. Karya tersebut merupakan sebuah gagasan lengkap, yang mungkin sangat rumit atau sederhana saja. Dalam menulis karya ilmiah, seorang penulis diharapkan mampu untuk mengkomunikasikan temuan atau gagasan ilmiahnya secara lengkap dan gambling agar mudah dipahami. Kedua, menulis karya ilmiah berbeda dengan karya imajinatif. Persiapan yang seksama dan pemikiran yang matang dan runtut perlu diperhatikan. Ketiga, dalam menyampaikan pemikirannya, penulis tidak mungkin mengabaikan perkembangan yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang terjadi dalam bidang keilmuannya sendiri. Keempat, sarana utama dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran adalah bahasa,. Bahasa sebuah sistem komunikasi memiliki aturan- aturan sendiri sekalipun sistem itu terus berkembang. Terakhir adalah masalah tanggung jawab, sekalipun kata ini tidak banyak muncul dalam buku ini, tulisan-tulisan yang ada mengajak pembaca untuk menyadari bahwa seorang penulis mempunyai berbagai tanggung jawab terhadap masalah yang ditelitinya.
Dalam menulis kerangka tulisan ilmiah yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian dalam tulisan ilmiah, terutama dalam jurnal ilmiah antara lain, judul tulisan, nama dan alamat penulis, abstrak, pengantar, permasalahan penelitian, bahan dan cara penelitian, hasil, pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka.

tapi ku terlanjur mencintai dirimu, terlambat bagiku untuk pergi darimu(pasha, dilema cinta)

Insyallah ku jaga dirimu, selamah diriq bernfas, dan tak kau sakaitihhhhh

dilema cintaqu .....

kupastikan takan pernah hilang ......

demi waktu

Alloh SWT mengingatkan kepada hambanya supaya hidup disiplin. seperti yang tertuang dalam Al-quran Surat Al-ashr Ayat 1-3 ( demi masa.sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran)
simpulan ayat tersebut yaitu mengingatkan kepada manusia bahwa waktu itu sangat penting. sehingga dalam pepatah arab dikatakan bahwa "waktu itu bagaikan pedang". pandai-pandai lah manusia memainkan pedang agar menjadi senjata baginya untuk mengalahkan musuhnya, sebaliknya jika manusia tak pandai memainkan pedang tersebut tak menutup kemungkinan pedang yang tajam akan menjadi senjata makan tuan bagianya, akan menusuk dirinya sendiri, naudzubilah himindalik.
salah satu yang penting adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu dalam beribadah, berusaha beribadah tepat pada waktunya mungkin akan menjadi senjata bagi kita untuk terbiasa disiplin dan taat pada waktu, dengan demikian kedisiplinan akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Alloh SWT.
MANAKAH YANG LEBIH PENTING?

ketika kepentingan menjadi identitas diatas semua individu mereka mutlak memproritaskan mana yang lebih penting.

kepentingan diri sendiri
hidup bahagia adalah keinginan setaip orang, diatas itu berdiri sebuah kepentingan yang dimiliknya. sebut saja ketika istri tercinta meminta sesuatu hal,pasti orang tersebut memenuhi keinginannya asalkan sang suami mampu, tetapi ketika orang tua membutuhkan anaknya untuk hadir di hadapannya manakah yang akan diambil?
tak mudah untuk menjawabnya,silahkan pikirkan sendiri.
SANGGAR SASTRA (DRAMA)
Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bisa dinikmati dengan cara membaca atau menonton pementasan drama, lebih menarik lagi apabila drama yang kita baca bisa kita pentaskan melalui pementasan drama. Pengalaman pementasanan drama didapat melalui mata kuliah SANGGAR SASTRA. Melalui kegiatan perkuliahan tersebut kami beroleh pengalaman tentang apresiasi sastra yaitu mendeklamasikan puisi, deklamasi balada secara rampak, serta pementasan drama secara kelompok, adapun langkah-langkah pementasan drama tersebut adalah sebagai berikut;
Tahapan pementasan drama:
1.Mendiskusikan dan memilih naskah drama yang akan dipentaskan;
2.Membaca dan mendsikusikan isi drama;
3.Setiap anggota/pemeran membaca nyaring dialog-dialog dalam naskah secara bergantian secara acak;
4.Penentuan pemeranan;
5.Setiap anggota/pemeran memahami peran masing-masing dan menghafal dialog;
6.Kelompok berlatih mengucapkan dialog sesuai peran masing-masing;
7.Setelah pengucapan dialog cukup lancar, setiap anggota/pemeran berlatih menyesuaikan ekspresi sesuai dengan peran;
8.Latihan pementasan disertai dengan ekspresi dan bloking panggung;
9.Kelompok melakukan gladi;
10.Pementasan drama.
Sekilas mengenai SANGGAR SASTRA ini semoga bermanfaat, dan terima kasih.. I LOVE YOU FULL.
BELAJAR PEMBELAJARAN
Deskripsi singkat teori kognitif
•menurut teori ini, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbetuk perubahan tingkah laku yangbisa diamati.
•Asumsi dasar teori ini adalah bahwa setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi secara “klop” dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki siswa.
•Dalam perkembangannya, setidak – tidaknya ada tiga teori belajar yang bertitik tolak dari teori kognitif ini, yakni teori perkembangan piaget, teori kognitif bruner, dan teori bermakna ausubel.

Contoh teori kognitif
Ketika kita sedang membaca, kita bukan memahami huruf – huruf yang ada tetapi kita memahami kata, kalimat, paragraph yang semuanya itu seolah menjadi satu.

Kritik teori kognitif
1.teori kognitif sering dikritik sebagai lebih dekat kepada psikologi daripada kepada teori belajar, sehingga aplikasinya dalam proses belajar mengajar tidaklah mudah.
2.teori ini juga dianggap sukar dipraktekkan secara murni terutama pada tahap tingkat lanjut.

Aplikasi ketiga teori kognitif
•Piaget
Proses belajar terjadi menurut tahap perkembangan yaitu, tahap asimilasi, tahap akomodasi, tahap equilibrasi sesuai dengan umur siswa.
•Bruner
Proses belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara kita mengatur materi pelajaran, dan bukan ditentukan oleh umur siswa. Serta terjadi proses belajar atas tahap enaktif, tahap ikonik, tahap simbolik.
•Ausubel
Proses belajar terjadi apabila siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dia miliki dengan pengetahuan yang baru. Dan proses belajar terjadi atas tahap memperhatikan stimulus yang diberikan, tahap memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.


Pola “siklus empat tahap” dalam pengembangan strategi pembelajaran.
1.Persiapan
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan pembelajar untuk belajar. Tujuannya untuk menimbulkan minta para pembelajar, memberi pesan positif mengenai pengalaman belajar yang akan disajikan serta menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar.
2.Penyampaian
Tahap penyampaian dilakukan dengan tujuan membantu pembelajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindera.
3.Pelatihan
Tahap pelatihanmerupakan intisari dari proses pembelajaran, serta sebenarnya pada tahap ini pembelajaran berlangsung.
4.Penampilan hasil
Tahap penampilan hasil bertujuan memastikan bahawa pembelajaran tetap melekat dan berhasil diterapkan.

Gambar keempat siklus

Persiapan Penyampaian

 

Pelatihan Penampilan


Manfaat siklus
Dengan memperhatikan empat siklus dalam pengembangan strategi pembelajaran ini, seorang guru akan lebih siap ( percaya diri) ketika akan mengajar, memudahkan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, serta memudahkan untuk mengetahui hasil pembelajaran.


Indikator pelakasanaan pembelajran
a.Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai
b.Menyajikan materi pelajaran secara sistematis
c.Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran
d.Mengatur kegiatan siswa dikelas
e.Menggunakan media pembelajaran
f.Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih
g.Memotivasi siswa
h.Melakukan interaksi dengan siswa
i.Memberikan pertanyaan dan umpan balik
j.Menyimpulkan pembelajaran
k.Menggunakan waktu yang efektif.

Keterkaitan antara RENPEL, pelaksanaan pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan tindak lanjut dapat mengukur komptensi pengelolaan pembelajaran dikelas.
Setiap kompetensi tersebut saling berkaitan secara erat. Ketika akan melaksanakan pembelajaran seorang guru hendaknya menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran agar pembelajaran itu beralangsung secara efektif dan efisien, setelah pembelajaran dilaksanakan mutlak harus ada suatu penilaian untuk mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran itu tercapai. Setelah penilaian dilaksanakan harus ada tindak lanjut untuk lebih memperjelas hasil penilaian.

Empat pilar dalam pembelajaran.
1.Learning to know
Pembelajaran untuk mengetahui,
Misalnya :
Meneliti perbedaan konsonan dan vokla dengan penelitian yang dilaksanakan maka murid akan mengetahui perbedaan konsonan dan vocal.
2.Learning to be
Pembelajaran untuk membangun jati diri
Misalnya :
Muncul kepercayaan diri akibat adanya suatu interaksi dan skill. Ini bias diterapkan di masyarakat agar siswa menjadi memilki kepercayaan diri.
3.Learning to do
Pembelajaran untuk berbuat.
Misalnya :
Siswa harus mengalami sesuatu dan akan mendapat pengetahuan.
4.Learning to live together
Pembelajaran untuk hidup bersama – sama (bekerjasama) secara harmonis (toleransi, demokratis, saling menghargai).
Misalnya; diskusi.

Pendapat tentang 4 pilar pembelajaran.
Empat pilar pembelajaran ini, baik untuk diterapkan dalam belajar dan pembelajaran sebab keempat pilar ini lebih menekankan pada kemampuan setiap siswa atau lebih menjunjung tinggi peningkatan potensi yang ada pada setiap siswa.


Pengertian ;
a.Relevansi

b.Konsisten

c.Berkecukupan


Contoh materi pembelajaran yang mengandung relevansi, konsisten, dan berkecukupan.
Materi pembelajarannya yaitu, Menulis kembali dongeng dengan bahasa sendiri, dongeng yang pernah dibaca atau didengar. Sumber belajarnya adalah buku dongeng. Dengan tujuan pembelajaran ; mampu menentukan pokok-pokok dongeng. Serta alokasi waktu 2 x 40 menit.

Keterampilan dasar mengajar.
1.Keterampilan bertanya.
Kemampuan seorang guru untuk memberikan pertanyaan pada siswa. Tujuannnya adalah mengukur pencapain pembelajaran.
2.Keterampilan memberikan penguatan
Kemampuan memberi motivasi kepada siswa agar siswa tertarik atau terpacu terhadap kegiatan pemebelajan
3.Keterampilan memberikan jawaban
Kemampuan memastikan suatu kebenaran dari kekurang pastian atau ketidakpahaman siswa.
4.Keterampilan mengadakan variasi
Kemampuan membuat suatu kegiatan pembelajaran yang tidak membosankan bagi peserata didiknya.
5.Keterampilan menjelaskan materi pelajaran
Terampil dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga materi tersebut mudah atau dapat diterima oleh peserta didik.
6.Keterampilan membuka, melaksanakan kegiatan inti.
Terampil dalam memusatkan perhatian peserta didik, supaya kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif.
7.Keterampilan menutup pembelajaran.
Terampil membuat suatu penutup agar pembelajaran yang berlangsung berkesan atau tetap diingat oleh peserta didik.


Kenapa guru harus memiliki keterampilan dasar mengajar?
Tugas guru dilapangan adalah mewujudkan suatu tujuan Utamanya adalah tujuan pembelajaran. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran ini memerlukan suatu skills khusus diantaranya adalah terampil bertanya, terampil memberikan penguatan, terampil memberikan jawaban, terampil membuat variasi pembelajaran, terampil menyampaikan materi pelajaran, terampil membuka pelajaran, dan terampil menutup pembelajaran. Oleh karena itu tujuh keterampilan dasar mengajar harus dikuasai oleh seorang guru.

Kecerdasan spiritual.
1.mampu merasa selalu diawasi tuhan
2.gemar berbuat ikhlas
3.disiplin beribadah
4.pandai bersyukur dan berterima kasih


Perbedaan pemerolehan bahasa & belajar bahasa.

Pemerolehan Bahasa.
a.Proses peraihan bahasa dibawah sadar;
b.Prosesnya tanpa kompetensi tentang aturan” bahasa;
c.Berlangsung di masyararakat;
d.Sifatnya alami dan berlangsung informal;
e.Merujuk akan tuntutan komunikasi;
f.Konsekuensinya social (berkaitan dengan masyarakat/lingkungan tempat tinggal;

2.Belajar Bahasa.
a.Dilakukan secara sadar;
b.Kompetensi merupakan modal untuk menggunakan bahasa yang dipelajari;
c.Berlangsung di kelas;
d.Sifatnya formal;
e.Merujuk akan tuntutan edukatif (pembelajaran)
f.Konsekuensinya pengetahuan.

Strategi belajar bahasa

Strategi adalah kiat atau teknik yang digunakan individu (seseorang) untuk mempelajari bahasa kedua (bahasa asing).diantaranya adalah :
1.strategi MetaKognitif = strategi yang menyangkut hal utama yakni organisasi diri/kesadaran dari diri sendiri untuk belajar, yang termasuk ke dalam strategi metakognitif adalah:
a.persiapan belajar;
b.pelaksanan belajar (mengatur perhatian)
c.pasca belajar (perolehan belajar)
2.strategi kognitif= strategi yang dijiwai oleh kemampuan permainan kognitif kita, misalnya kemampuanmengenal dan memahami skema paradigmatic, menganalisis dan mengevaluasi struktur.
3.strategi sosiokognitif= berkenaan dengan penggunaan bahasa, mampu mengaitkan bahasa dengan materi yang dipelajari.

prinsip belajar bahasa paham behaviorisme
a.bahasa merupakan pokok perilaku sesorang bukan produk berfikir;
b.bahasa merupakan seperangkat kebiasaan hasil berlatih dan pengulangan;
c.dalam belajar bahasa, kemengertian tentang makna selalu didaului oleh pengucapan (peniruan);
d.bahasa itu berupa ujarana,tuturan,speech bukan tulisan;
e.belajar bahasa diproses melalui dengan ucap (oral-aural);
f.pendekatan pembelajaran yang relevanm adalah oral-aural dengan metode audiolingual (berkaitan dengan proses mendegarkan-mengucapkan), direct method, audio visual, mim-mem, SAS;
g.tidak mengenal komponen kompetensi (kemampuan potensial);
h.paham linguistic yangmendasari paham belajar ini adalah linguistic deskriftif atau linguistic structural yang dilandasi prinsip-prinsip psikologi behaviorisme;
i.penerjemahan merupakan hal yang dianggap “tabu” karena dianggap mengganggu proses denga ucapa;
j.proses belajar B2/BA dilandasi proses pemerolehan bahasa pertama.



prinsip belajar bahasa paham kognitif
a.bahasa seseorang merupakan produk berfikir, bahasa merupakan isi pikiran sesorang;
b.bahasa merupakan satuan-satuan yang sistematis dengan jumlah klimat yang tidak terbatas. Jadi, seseorang itu berbahasa bukan karena hafalan sejumlah kalimat, melainkan karena pengembangan kreativitas dalam mengungkapkan isi pikiran;
c.belajar bahasa secara kognitif dilandasi transformasi generatif yang mengadopsi prinsip-prisip psikologi kognitif;
d.belajar paham kognitif memberikan penekanan terhadap control pembelajaran tentang sruktur bahasa dalam semua pemunculannya sebagai system yang terpadu dan bermakna;
e.belajar paham kognitif memberikan kesempatan terhadap kreativitas dalam mengolaborasi atau mengembangkan struktur dasar sebuah bahasa. Belajar bahasa merupakan proses pengembangan performasi kreatif.
f.Belajar paham kognitif berlangsung dengan penuh kesadaran yang terpancar dalam pemeran pikiran belajar.

Karakteristik pembelajar bahasa
1.usia kritis belajar bahasa
usia kritis belajar bahasa=usia optimal untukbelajar bahasa kedua atau bahasa asing dengan cara alami. Belajar secara alami=belajar bahasa kedua yang cenderung sama dengan “proses belajar” B1
2.motivasi
motivasi=kondisi psikologis yang mendorong sekaligus mengarahjkan perilaku sesorang.
Dua jenis motivasi
motivasi intrinsic=motivasi yg muncul dari seseorang.(sering dikaitakan dengan keberhasilan jangka panjang)
motivasi ekstrinsik=motivasi yang muncul karena rangsangan dari luar diri seseorang, seperti persetujuan keluarga, nilai terbaik, tawaran hadiah, ancaman hukuman, dsb.
Dalam belajar B2 dikenal tiga jenis motivasi, yakni;
1.motivasi instrumental=motivasi yg muncul karena nilai kegunaan atau nilai manfaat dari pencapaian linguistik bahasa yg dipelajari. (untuk mendapatkan pekerjaan)
2.motivasi integratif=motivasi yg timbul karena persepsi positif terhadapa masyarakat dan termotivasi integratif jika ia berpersepsi positif tentang masyarakat serta budaya bahasa yg dipelajarinya.lebih jauh lagi ia ingin berkenalan dengan baik, bahakan dia ingin berpadu dengan anggota masyarakatnya.
3.motivasi asimilatif=hasrat atau semangat dalam mempelajari B2, atau BA yg timbul karena pembelajar berkeinginan untuk tampak atau untuk bergaya seperti orang atau anggota lingkungan masyarakat ”pemilik” bahasa yg ia sedang pelajari. (menikah, bangyak bergaul).



MORFOLOGI

1.Pengertian Morfologi
Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu ;
•Kata dasar, contohnya sepeda
•Kata berimbuhan, contoh berepeda
•Kata majemuk, contohnya sapu tangan
•Kata ulang, contohnya berbondong2
Pembagaian bentuk kata menurut C.A. Mees yang berkebangsaan Belanda terdiri dari:
•Kata benda
•Kata kerja
•Kata sifat
•Kata ganti
•Kata bilangan
•Kata depan
•Kata sandang
•Kata Sambung
•Kata seru
•Kata keterangan.

Perbedaan golongan arti kata – kata tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu, maka morfologi, disamping bidangnya yang utama menyelidiki seluk beluk bentuk kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata. Arti kata ini misalnya, bersepeda dan sepeda, yang berarti sepeda, artinya benda yang mmilki roda dua yang dijalankan dengan cara dikayuh. serta bersepeda, artinya kegiatan menggunakan sepeda. Jadi arti kata hanya mengartikan kata tesebut. juga bisa dilihat dari sepeda dan bersepeda dengan diberi imbuhan maka kata sepeda dan bersepeda pun menjadi beda. Jos Daniel Perera meberi batasan morfologis (proses), yaitu Morfemis adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama. misalnya sepeda menjadi bersepeda arti (sanksekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda), makna (arab), untuk menunjukan arti – arti imbuhan gramatikal, contohnya bersepeda dll.
1.1 Hubungan Morfologi Dengan Leksikologi
Leksikologi mempelajari seluk beluk kata, ialah mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa. Pendek kata Leksikologi adalah ilmu yang mempelajari arti kata. misalnya kata masak. kata ini mempunyai berbagai arti dalam pemakaiannya.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara morfologi dengan leksikologi, yaitu ; Persamaannya yaitu sama - sama mempelajari arti kata. Perbedaannya adalah morfologi mempelajari arti dari imbuhan atau disebut peristiwa gramatik (granatical learning) contoh bersepeda?. sedangkan Leksikologi mempelajari arti kata dasar atau kata dasar (Lecical Meaning), contoh kursi?

Hubungan Morfologi Dengan Sintaksis
Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari kalimat serta bagian - bagiannya. terdapat juga persamaan dan perbedaan antara morfologi dengan sintaksis, yaitu persamaannya yaitu sama – sama berdasar pada kata. Perbedaannya adalah sintaksis mempelajari wacana, kalimat, klausa, dan kelompokkata ( frase) sedangkan morfologi mempelajari kata, dan morfem lebih khusus.

Hubungan Morfologi Dengan Etimologi
Morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata. hanya perlu ditambahkan bahwa yang diselidiki oleh morfologi hanyalah peristiwa – peristiwa umum. Dari penelitian ternyata bahwa peristiwa perubahan dari kena menjadi kenan pada kata berkenaan bisa dikatakan hanya terjadi pada kata – kata tersebut. karena itu. Tentu saja peristiwa tersebut tak dapat disebut sebagai peristiwa umum, dan tentu saja juga tidak trmasuk dalam bidang morfologi, melainkan termasuk dalam bidang ilmu lain yang isa disebut etimologi. Etimologi adalah ilmu yang mempelajari seluk – beluk asal sesuatu kata secara khusus. pendek kata ilmu yang mempelajari kalimat serta bagian – bagiannya.

Satuan – Satuan Gramatik
Satuan – satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatik seperti sepeda , bersepeda, bersepeda keluar kota, ia membeli sepeda, dll. Disebut satuan gramatik atau disingkat satuan.
Satuan gramatik itu dapat berupa ;
•Wacana, misalnya Kemarin saya tidak
Masuk badanku panas
Kalimat, misalnya Ia sedang berkunjung
Kerumah teman
•Kalusa, misalnya Ia sedang berkunjung
K rumah teman.
•Frase, misalnya akan datang, ke rumahl.
•Kata, misalnya rumah, membawa
diketahui.
•Morfem, misalnya ber-, ke-, ke-an..

Satuan Gramtik Bentuk Tunggal Dan Bentuk Kompleks.
Satuan gramatik bisa terdiri dari morfem terikat, morfem bebas, dan frase. Satuan gramatik yang terdiri dari satuan yang lebih kecil lagi dan tidak bisa dibagi - bagi disebut bentuk tunggal misalnya, ber-, sepeda, ke-, luar. Sedangkan satuan yang terdiri dari satuan – satuan yang lebih kecil lagi danbisa dibagi – bagi lagi, disebut bentuk kompleks, misalnya, bersepeda, bersepeda ke luar kota.

Satuan Gramatik Bebas Dan Satuan Gramatik Terikat
Satuan – satuan yang kalau diucapkan mengandung arti penuh atau berdiri sendiri disebut satuan gramtik bebas misalnya, sepeda karena terbayang bendanya. Satuan yang jika diucapkan tidak penuh atau tidak berdiri sendiri disebut satuan gramatik terikat misalnya, semua imbuhan afiks, pokok kata (berupa kata), partikel (kata sambung, kata depan).


Morfem, Morf, Alomorf, Dan Kata
Morfem adalah satuan gramatik yang paling kecil, Morf adalah perubahan bentuk morfem, Alomorf adalah proses perubahannya. misalnya morfem meN- yang mempunyai struktur fonologik mem-, men-, misalnya pada membawa,mendatang, bentuk mem-, dan men- itu, masing – masing disebut morf, yang semuanya merupakan alomorf dari morfem meN-. Untuk mencari morfem dapat dicari dengan analisis morfem atau dengan diagram pohon (untuk mencari jumlah morfem), contoh ;Melarikan


Kata adalah satuan bebas yang paling kecil, atau dengan kata lain, satuan yang mengandung arti penuh. contohnya, rumah karena rumah ini merupakan satuan – satuan bebas.Jika kata masihbisa ditambah dengan imbuhan lain bisa dikatakan bentuk dasar karena bisa membentuk dasar yang lainnya, jika kata sudah tidak bisa ditambahkan lagi maka kata tersebut tidak bisa menjadi bentuk dasar lagi.

Pengenalan Morfem
Berikut adalah cara – cara untuk mengenali morfem ;
1.Sama, arti sama, Contoh saya memakai baju
2.Berbeda, dapat satu morfem makna arti serta bisa dijelaskan secara fonologik.
3.Struktur fonologi yangberbeda (tidak bisa dijelaskan secara fonologi), contoh belajar. belajar termasuk distribusi komplementer serta kata dasar ajar selalu saja dengan bel-
4.Penjelasan
5.Jika struktur fonologi sama, arti sama maka satu morfem, jika struktur fonologi sama arti beda maka dua morfem,
a.Suatu satuan yang mempunyai strek fonologi yang sama distribusi berbeda, arti berhubungan merupakan satu morfem. contoh,
Ia sedang duduk(satu morfem)
Duduk orang itu sopan
b.Struktur sama dan distribusi sama, arti tidak berhubungan merupakan morfem berbeda, contoh ;
Mulut orang itu lebar(dua morfem)
Mulut gua itu lebar
6.Setiap satuan yang masih bisa dipenggal – penggal.
Kesimpulannya cara yang paling mudah untuk mengenali morfem yaitu adalah no 4.

Deretan Morfologik
Yang dimaksud dengan deretan morfologik adalah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata – kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Misalnya kita dapati kata terlantar, untuk mengetahui apakah kata itu terdiri dari satu morfem atau beberapa morfem, haruslah kata itu diperbandingkan dengan kata – kata lain dalam deretan morfologik. Deretan morfologiknya sebagai berikut ;
terlantar
menterlantarkan
diterlantarkan
keterlantaran
terlantar
terlantar

Deretan morfologik amat berguna dalam penentuan morfem – morfem. Kata terlantar misalnya, apakah terdiri dari satu morfem atau dua morfem, dapat diketahui dari deretan morfologik kata itu haruslah dibandingkan dengan kata – kata lain yang terhubung dalam bentuk dan artinya dalam deretan morfologik. dari deretan morfologik diatas, dapat dipastikan bahwa kata terlantar hanya terdiri dari satu morfem.

Hirarki Bahasa
Pada contoh berperikemanusiaan hirarki pembentukannya lebih banyak lagi dibandingkan dibandingkan dengan pada berpakaian. Satuan berperikemanusiaan terbentuk dari unsur ber- dan perikemanusiaan. Satuan perikemanusiaan terbentuk dari unsur peri dan kemanusiaan. selanjutnya kemanusiaan terbentuk dari unsur ke-an dan manusia. Jadi proses terbentuknya satuan berperikemanusiaan demikain : manusia kemanusiaan perikemanusiaan berperikemanusiaan. Diagramnya sebagai berikut :

Bentuk Asal Dan Bentuk Dasar
Bentuk asal ialah satuan yang paling kecil yang menjadi asal Sesutu kata kompleks. Misalnya kata berpakaian terbentuk dari bentuk asal pakai mendapat bubhan afiks –an menjadi pkian,kemudian mendapat bubuhan afiks –ber menjadi berpakaian.Contoh lain , misalnya kata berkesudahan. Kata ini terbentuk dari bentuk asal sudah mendapat bubuhan afiks ke –an menjadi kesudahan, kemudian mendapat bubuhan afiks ber- menjadi ber-kesudahan.
Bentuk dasar ialh satuan, baik tunggal maupun kompleks, yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar. kata berpakaian, misalnya, terbentuk dari bentuk dasar pakaian dengan afiks ber-: selanjutnya kata pakaian terbentuk dari bentuk dasar pakai dengan afiks –an . Kata berkesudahan terbentuk dari bentuk dasar kesudahan dengan afiks ber-, dan selanjutnya kata kesudahan terbentuk dari bentuk dasar sudah dengan sfiks ke –an.
Bentuk asal selalu berupa bentuk tunggal, berbeda dengan bentuk dasar, mungkin berupa bentuk dasar, mungkin berupa bentuk tunggal, misalnya pakai dalam pakaian, sudah dalam kesudahan, rumah dalam perumahan,pergi dalam berpergian, kata dalam berkata, dan mungkin pula berupa bentuk kompleks, misalnya pakaian dalam berpakaian, kesudahan dalam berkesudahan,pemimpin dalam berpemimpin, dan kepemimpinan, berangkat dalam keberangkatan,alasan dalam beralasan, berhasil dalam keberhasilan, mengerti dalam dimengerti. tidak mampu dalam ketidakmampuan, sandaran dalam bersandaran, sinambung dalam kesinambungan.

Proses Morfologik
Apakah Proses Morfologik itu?
Proses morfologik ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan).
Disamping tiga proses morfologik tersebut di atas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disini disebut zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, ialah kata – kata makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya teramsuk golongan kata verbal yang transitif.
Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afiks ber- pada jalan menjadi berjalan, pada sepeda menjadi bersepeda, pada susah payah menjadi bersusah payah, pada gerilya menjadi bergerilya; pertumbuhan afiks meN- pada tulis menjadi menulis, pada kenai menjadi mengenai, pada baca menjadi membaca. Pada an- misalnya sasaran, pada kata gigi, menjadi gerigi Ada juga afiks yang tidak membentuk kata, melainkan membentuk pokok kata, ialah afiks per-, kan-, dan –I, misalnya perbesar, perkecil, perluas, perindah, perkarya, perdua, perempat, ambilkan, bacakan, bangunkan, duduki, tanami, pukuli.
Penggabungan kata dengan bentuk kata. berikut ini contoh Morfem bergabung dengan morfem.
Pasukan + tempur  Pasukan tempur
Mata + Kaki  Mata Kaki
Rumah + sakit  Rumah sakit

Pemajemukan
Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.

Ciri – Cirri Majemuk
Jika kursi malas merupakan kalusa, tentu kata kursi dapat di ikuti kata “itu” menjadi *kursi itu malas, kata malas dapat didahului kata tidak, sangat, atau agak, menjadi *kursi itu tidak malas; *kursi itu sangat malas; *kursi itu agak malas. Jelas bahwa semua itu tidak mungkin, berbeda dengan adik malas yang dapat diperluas menjadi adik itu malas; adik itu sangat malas, adik itu agak malas.Jika kursi malas itu merupakan frase, tentu dapat disela dengan kata menjadi *kursi yang malas seperti halnya adik malas yang di antara unsurnya dapat ditambahkan kata yang menjadi adik yang malas.
Bedasarkan ciri – ciri yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa kursi malas tidak merupakan klausa, dan juga tidak merupakan frase, melainkan merupakan kata majemuk. Dengan melihat ciri – ciri kata majemuk diatas, dapat ditentukan satuan mana yang merupakan kata mejemuk dan satuan mana yang tidak merupakan kata mejemuk, ciri – ciri itu sebagai berikut :
Melihat apakah salah satu unsurnya berupa pokok kata
Contoh :
1. Pasukan +Tempur  Pasukan tempur
karena kata tempur merupakan pokok kata, jadi pasukan tempur merupakan kata majemuk.
2. Lomba + lari Lomba lari
karena kata lomba merupakan pokok kata, jadilomba lari merupakan kata majemuk.
Kalau dipisahkan dengan kata (itu,yang, dll.) tidak membentuk kata yang benar.
Contoh :
1.Dipisahkan dengan kata “itu”.
“Kursi itu malas”  Kata majemuk
“Adik itu malas”  frase
jadi, dapat disimpulkan bahwa “Kursi itu malas” merupakan kata mejemuk karena merupakan kata yang tidak benar (salah). sedangkan “Adik itu malas” merupakan kata yang benar dan jelas artinya.
Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bnetuk dasar rumah.
Setiap kata ulang sudah pasti memilki bentuk dasr. Kata – kata seperti sia – sia, mondar – madir dll., dalam tinjauan deskriftif tidak dapat dogolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari deretan morfologik dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata – kata tersebut. Secara historic atau komparatif, mungkin kata – kata itu dapat dimasukan kedalam golongan kata ulang.

Cara Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
1.Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek
Contoh :
Berkata – kata dari bentuk dasar berkata.
Pada cara ini ada pengecualian yaitu pada imbuhan se- nya. misalnya stinggi – tingginya ini tidak merupakan pengulangan karena kata setinggi – tingginya merupakan kata keterangan.
2.Bentuk dasar berupa satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
Contoh :
Mepertahan – tahankan
Bentuk dasarnya bukan mepertahankan melainkan mempertahankan, karena mempertahan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia.

Macam – Macam Pengulangan
a.Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanapa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks., misalnya sepeda  sepeda – sepeda.
b.Pengulangan Sebagian
Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. misalnya mengambil – ambil.

c.Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks.
Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulanag itu terjadi bersama – sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama – sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya, kereta – keretaan.

d.Pengulangan Dengan Perubahan Fonem
Kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit. Disamping bolak – balik terdapat kata kebalikannya, sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/, menjadi /o/, dan dari /i/, menjadi /a/.

4.Morfofonemik

Proses morfofonemik
Morfofonemik adalah ilmu yang mempelajarai perubahan fonem. Mengapa ada perubahan fonem karena ada dua morfem yang bertemu. Bila ada dua morfem bertemu dan berubah maka hal ini tersebut disebut proses morfofonemik. Misalnya, terdiri dari tiga fonem, ialah /b,ə,r/. Akibat pertemua morfem itu dengan morfem ajar, fonem /r/ berubah menjadi /l/,, hingga pertemuan morfem ber- dengan morfem ajar menghasilkan kata belajar. Demikianlah disini terjadi proses morfofonemik.
Dalam bahasa Indonesia sedikit – dikitnya ada tiga proses morfofonemik, ialah :
a.Proses perubahan fonem.
Contoh :
meN- +cabut  mencabut
meN- + yakin (kan)  meyakinkan
meN- +waris (i)  mewarisi
Dari contoh diatas, diketahui ada perubahan/pengurangan fonem yaitu, Nasal pada meN-.
b. Proses penambahan fonem.
Contoh :
tik  mengetik
las  mengelas
cat  mengecat
bom  mengebom
bor  mengebor
Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa ada penambahan fonem yaitu, /e/.
c.Proses hilangya fonem.
Contoh :
meN- +lerai  melerai
meN- + lupakan  melupakan
meN- + lestari  melestarikan
INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR

INTERAKSI
Suatu kegiatan atau hubungan timbal balik antara seseorang dengan orang lain (satu atau lebih) yang terjadi dalam suasana atau situasi tertentu dalam uapaya mencapai tujuan tertentu.
Manusia
Makhluk individu dan makhluk sosial
 Selalu berhubungan dengan yang lainnya
 Saling membutuhkan
 hidup bersama
Berinteraksi dan berkomunikasi
Interaksi tidak dapat dipisahkan dari komunikasi karena komunikasi sebenarnya merupakan bagian dari interaksi.

Penjelasan
Komunikan : Orang yang diajak berkomunikasi (penyimak/pembaca)
Komunikator : Orang yang melakukan inisiatif untuk berkomunikasi (pembicara/penulis)


Catatan:
1. Komunikasi merupakan bagian dari interaksi
2. Dalam interaksi minimal terjadi komunikasi dua arah
3. Komunikasi, bisa saja terjadi hanya satu arah
4. Interaksi dan komunikasi bisa terjadi secara disengaja atau tidak disengaja walaupun pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang disengaja

CIRI GURU YANG BAIK (sucesful Teacher) DG. RYANS
1. Hangat, dekat (Warmly)
2. Bersahabat, peramah (Friendly)
3. Tegas, sungguh-sungguh (Emphatetic)
4. Humoris, lucu (Humor Typical)
5. Periang, gembira (Cheerful)

Ciri Lainnya:
1.Berkepribadian kuat dan baik
2.Berpengetahuan Luas
3.Bercita-cita memajukan muridnya agar dapat berguna ketika berada ditengah masyarakat (membekali siswa dengan life skill)
4.Berkelakuan Baik.

“JADILAH GURU YANG BAIK ATAU TIDAK SAMA SEKALI”

KOMPETENSI GURU Berdasarkan UU Guru dan DosenTahun 2005
1.Kompetensi Pedagogik
2.Kompetensi Kepribadian
3.Kompetensi Profesional
4.Kompetensi Sosial


1.K0MPETENSI PEDAGOGIK
Kompetensi yang berkaitan dengan pemahaman terhadap peserta didik dan pengelolaan pembelajaran yang meliputi:

1.Pemahaman terhadap wawasan atau landasan kependidikan
2.Pemahaman terhadap peserta didik
3.Pengembangan kurikulum atau silabus
4.Perancangan pembelajaran
5.Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
6.Pemanfaatan teknologi pembelajaran
7.Evaluasi hasil belajar
8.Pengembangan potensi yang dimiliki siswa

2.KOMPETENSI KEPRIBADIAN
Kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan personal yang meliputi:

1.Kepribadian yang mantap dan stabil, misalnya bertindak sesuai dengan norma hukum, sosial, dan bangga sebagai seorang pendidik
2.Kepribadian yang dewasa, misalnya memiliki etos kerja, bertindak sebagai seorang pendidik, dan mandiri.
3.Kepribadian yang arif, misalnya berpikiran terbuka dan menampilkan tindakan yang bermanfaat.
4.Berwibawa, misalnya memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap siswa dan disegani.
5.Berakhlak mulia, misalnya bertindak sesuai dengan norma religius dan memiliki perilaku yang dapat diteladani peserta didik.


3.KOMPETENSI PROFESIONAL
Kompetensi propfesional merupakan kompetensi yang berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran bidang studi secara luas dan mendalam

4.KOMPETENSI SOSIAL
Kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat yang meliputi:

1.Kemampuan berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat secara santun.
2.Dapat menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.
3.Bergaul dengan peserta didik, sesama pendidik, maupun pimpinan satuan pendidikan
4.Bergaul dengan masyarakat sesuai norma yang berlaku.
5.Menerapkan prinsip-prinsip kebersamaan dan persaudaraan.

HAKIKAT INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
Interaksi Belajar Mengajar usianya sudah tua
Contoh:
1. Manusia Purba (Non Formal)
2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
3. Peradaban
4. Penyebaran Agama

Interaksi Belajar Mengajar merupakan kegiatan praktis yang berdasarkan konsep teoritis tertentu, berlangsung pada waktu tertentu dan terarah pada tujuan tertentu
IBM mengandung arti adanya interaksi antara tenagapengajar dengan siswa sebagai warga belajar. Dengan demikian, terlihat bahwa IBM merupakan suatu rangkaian organisasi yang kompleks, karena untuk mencapaitujuan yang diinginkan,

guru perlu mengefektifkan berbagai komponen yang terlibat di dalamnya

KOMPONEN – KOMPONEN INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR

CIRI-CIRI IBM

1. Mempunyai tujuan/indikator
2. Terencana
3. Adanya materi pelajaran
4. Adanya aktivitas siswa
5. Peran guru sebagai pembimbing
6. Adanya disiplin/aturan (guru dan siswa)
7. Adanya batas waktu
8. Evaluasi

Prinsif-Prinsif IBM
1. Berpusat pada siswa
2. Belajar dengan melakukan
3. Mengembangkan kemampuan sosial
- Kemampuan berinteraksi dengan lingkungan.
4. Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah bertuhan.
5. Mengembangkan keterampilan memecahkan masalah.
6. Mengembangkan kreativitas siswa.
7. Mengembangkan kemampuan menggunakan IPTEK.
8. Menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik.
9. Belajar sepanjang hayat.
10.Mengembangkan kompetisi, kerja sama dan solidaritas.

BELAJAR, MENGAJAR, DAN MENDIDIK

Belajar:

1. Suatu perubahan tingkah laku berdasarkan pengalaman yang diperoleh.
2. Suatu proses perubahan tingkah laku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu (Hilgard).
3. Proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri anak didik melalui serangkaian kegiatan (Gagne).
4. Belajar dapat ditafsirkan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku siswa karena adanya suatu interaksi antara individu dengan lingkungannya melalui
proses pengalaman dan latihan.

CIRI BELAJAR

1. Adanya perubahan tingkah laku
(Koqnitif, afektif, dan psikomotor)
2. Suatu yang disengaja, bukan faktor kebetulan (dalam dunia pendidikan)
3. Dapat melakukan sesuatu yang baru dan dapat diulangi kemampuan tsb kapan saja diperlukan.
4. Berlangsung sepanjang hayat (formal dan non Formal).

HASIL BELAJAR (Gagne)

1. Intelektual Skill
Keterampilan intelektual atau kecapan yang berhubungan dengan lingkuangan.
2. Coqnetive Strategy
Strategi koqnitif atau kecakapan mengarahkan aktivitas koqnitif misalnya memecahkan masalah.
3. Verbal Information
Keterampilan mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa.
4. Motor Skill
Kemampuan melakukan serangkaian gerak.
5. Attitude
Sikap atau minat misalnya sikap menerima atau menolak berdasarkan penilaian tertentu.

EMPAT PILAR BELAJAR (UNISCO) Pembelajaran Berbasis Portofolio
1. Learning to do
Pembelajaran untuk berbuat (mengalami).
2. Leraning to know
Pembelajaran untuk mengetahui
3. Learning to be
Pembelajaran untuk membangun jati diri (muncul kepercayaan diri akibat adanya suatu interaksi)
4. Learning to live together
Biasanya ditambah Learning to Cooperative.
Pembejaran untuk hidup bersama-sama secara harmonis (toleransi, demokratis, saling menghargai).

PRINSIP BELAJAR BERDASARKAN KBK
1.Belajar berorientasi pada tujuan/indikator.
2.Proses belajar akan terjadi bila seseorang dihadapkan pada situasi yang problematis.
3.Belajar dengan pemahaman akan lebih bermakna daripada hapalan.
4.Belajar dengan menyeluruh akan lebih berhasil daripada terbagi-bagi atau terkotak-kotak.
5.Belajar memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari bacaan.
6.Belajar merupakan suatu proses yang kontinyu.
Dilakukan secara teratur, terjadwal, terus menerus dan bertahap.

PENDEKATAN SAVI
Semua prinsif di atas diturunkan dari pendekatan Savi (Dave Meier dalam The accelerated learning)
1.Somatis
Belajar dengan bergerak dan berbuat.
2.Auditori
Belajar dengan berbicara dan mendengar.

3.Visual
Belajar dengan mengamati dan menggambarkan
4.Intelektual
Belajar dengan memecahkan masalah dan berpikir /merenung.

MODUS PENGALAMAN BELAJAR (Sheal Peter)
Kita (manusia) belajar:
1.10% dari apa yang kita baca;
2.20% dari apa yang kita dengar;
3.30% dari yang kita lihat;
4.50% dari yang kita lihat dan dengar;
5.70% dari apa yang kita katakan; dan
6.90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.

MENGAJAR
Mengajar merupakan kegiatan terpadu yang berkesinambungan dengan berbagai komponen yang terlibat di dalamnya (Barr and Dreeben).
Mengajar merupakan penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar (Hasibuan)
Suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung berlangsungnya proses belajar (Sardiman).
Merancang, membimbing, mengarahkan anak untuk belajar (Burton).
Menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta mengarahkan kegitan belajar anak untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang dapat membawa perubahan tingkah laku dalam kehidupannya ( T. Raka Joni).

PANDANGAN MENGAJAR
1.Menyampaikan pengetahuan dari seseorang kepada kelompok.
Bersifat tradisional, hanya transfer of knowledge.
2.Membimbing siswa dalam belajar.
Moderen, tidak bersifat tradisional.
3.Mengatur lingkungan agar terjadi interaksi belajar mengajar yang diharapkan, karena lingkungan merupakan stimulus bagi terjadinya PBM yang baik.
Moderen, mengapa?
MENGAJAR DEWASA INI

PRINSIP-PRINSIP MENGAJAR
1.Kesiapan (guru dan siswa)
2.Perhatian
memusatkan perhatian siswa terhadap materi yang akan mereka pelajari (bertanya, menjelaskan manfaat materi pelajaran, apersepsi, dll.)
3. Apersepsi
Menghuhungkan materi pelajaran yang telah lalu dengan materi pelajaran yang akan dipelajari (Memperlancar PBM dan memusatkan perhatian siswa).
4.Kepraktisan Bahan
Bermanfaat, menarik, valid, hangat, dan menimbulkan motivasi.
5.Perbedaan Individual.
Siswa berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, karakteristik yang berbeda, kemampuan awal yang berbeda.
6.Prinsip Psikologis
Misalnya dalam pengkajian materi harus dilakukan secara gradual.

MENDIDIK

Memelihara dan memberikan latihan mengenai ahlak dan kecerdasan pikiran.
Suatu usaha untuk menghantarkan anak didik mencapai kedewasaan, baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, mendidik dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap, mental, dan ahlak siswa.
Dalam mendidik tidak hanya transfer of knowledge, tetapi transfer of values yakni usaha membina anak secara utuh dan komprehensif (koqnitif, afektif, dan psikomotor) agar dapat berdiri sendiri sesuai dengan norma-norma sosial, bangsa, maupun agama.

CIRI MENDIDIK

1.Merupakan suatu proses yang tidak terlepas dari berbagai komponen.
2.Terdapat kegiatan pengkajian materi pelajaran oleh siswa.
3.Adanya unsur motivasi.
4.Penanaman nilai/sikap.
5.Terjadi dalam situasi formal dan nonformal.
6.Alokasi waktu (formal).
7.Sesuatu yang disengaja, bukan faktor kebetulan.

KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENGUATAN


Penguatan biasanya berupa penghargaan yang diberikan bila seseorang telah melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain maupun dirinya sendiri.
Dalam proses belajar mengajar, penguatan adalah respon yang diberikan guru terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku tersebut (tingkah laku positif).
Penguatan sudah pasti penghargaan, tetapi penghargaan belum tentu disebut penguatan.
Penghargaan diberikan guru kepada siswa yang telah berupaya menunjukan tingkah lakunya, benar maupun salah. Contoh?
Penguatan hanya diberikan pada siswa yang telah melakukan sesuatu dengan benar (positif). Contoh?


PRINSIP-PRINSIP PENGGUNAAN PEGUATAN

1.Kehangatan dan keantusiasan
(ketika guru melihat tingkah laku siswa)
2.Kebermaknaan
Diberikan bila responsi siswa betul-betul benar
3. Hindari pemberian respon yang negatif terhadap jawaban atau tingkah laku siswa
Contoh?
Akibat yang akan terjadi?

CARA PENGGUNAAN PENGUATAN

Penguatan biasanya berupa penghargaan yang diberikan bila seseorang telah melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain maupun dirinya sendiri.
Dalam proses belajar mengajar, penguatan adalah respon yang diberikan guru terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku tersebut (tingkah laku positif).
Penguatan sudah pasti penghargaan, tetapi penghargaan belum tentu disebut penguatan.
Penghargaan diberikan guru kepada siswa yang telah berupaya menunjukan tingkah lakunya, benar maupun salah. Contoh?
Penguatan hanya diberikan pada siswa yang telah melakukan sesuatu dengan benar (positif). Contoh?

PRINSIP-PRINSIP PENGGUNAAN PEGUATAN
1.Kehangatan dan keantusiasan
(ketika guru melihat tingkah laku siswa)
2.Kebermaknaan
Diberikan bila responsi siswa betul-betul benar
3Hindari pemberian respon yang negatif terhadap jawaban atau tingkah laku siswa
Contoh?
Akibat yang akan terjadi?

CARA PENGGUNAAN PENGUATAN
1.Ditujukan khusus pada pribadi tertentu, misalnya pada saat memberi komentar sambil menyebutkan namanya dan menatapnya.
2.Diberikan pada kelompok. Contoh?
3.Bervariasi.(verbal, non verbal, campuran, pribadi, dan kelompok)
4.Penguatan hendaknya diberikan segera setelah peserta didik menampilkan atau menunjukan tingkah laku tertentu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN
Membuka pelajajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa terhadap hal-hal yang akan dipejarinya.
Contoh:
-Mengingatkan materi pelajaran yang telah lalu dan dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari siswa (apersepsi).
-Mengemukakan tentang pentingnya atau manfaat materi yang akan dipelajari siswa.
-Menginformasikan indikator dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
-Memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran yang telah dipelari siswa.
-Dll.

Menutup pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk mengahiri kegiatan pembelajaran.
Contoh:
-Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
-Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat kesimpulan tentang inti pembicaraan atau permasalahan yang dipelajarinya.
-Membuat kesimpulan tentang materi pelajaran yang dipelajari siswa.
-Memberikan Embeded Test/Progress Test atau tes penyela dengan maksud untuk melihat ketercapaian indikator atau tujuan pembelajaran.
-Meminta siswa untuk mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan yang telah dikuasainya.


Membuka dan menutup pelajaran dapat berpengaruh terhadap keberhasilan IBM.
1.Timbulnya perhatian dan motivasi siswa dalam mempelajari bahan kajian yang dipelajarinya.
2.Siswa mengetahui batas-batas tugas belajar yang harus dikerjakannya.
3.Siswa mengetahui hubungan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan pelajaran yang akan dipelajarinya.
4.Siswa dan guru dapat mengetahui tingkat keberhasilan IBM yang telah dilaksanakannya.

Prinsip-prinsip kegiatan membuka dan menutup pelajaran.
1.Kebermaknaan
Kegiatan yang dilakukan memiliki revansi dengan indikator dan tujuan pembelajaran.
Berurutan dan berkesinambungan
Artinya, ada kaitan yang jelas antara satu bagian dengan bagian yang lainnya atau ada kaitan antara pengetahuan, keterampilan, sikap yang telah dimiki siswa dengan materi yang akan dipelajarinya.

KOMPONEN MEMBUKA PELAJARAN
1.Menarik perhatian
- Gaya mengajar bervariasi
- Suara harus jelas
- Penampilan “oke”
- Alat bantu bervariasi
- Pola interaksi bervariasi
2.Menimbulkan motivasi
- Kehangatan dan keantusiasan
- Penguatan (tidak pelit)
- Murah senyum
- Adanya ketegasan dan kewibawaan
3.Memberikan acuan
- Mengemukakan Indikator/Tujuan
- Mengemukakan tugas belajar siswa
- Pengajuan pertanyaan/masalah
- Apersepsi.

KOMPONEN MENUTUP PELAJARAN
1.Meninjau kembali apakah inti pelajaran telah dikuasai siswa atau belum.
2.Membuat kesimpulan terhadap setiap inti materi pembelajaran yang dipelajari siswa.
3.Meminta siswa untuk mendemonstrasikan, mengaplikasikan, atau mengekspresikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimilikinya.
4.Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
5.Memberikan pertanyaan.
6.dll.

KETERAMPILAN BERTANYA
1.Meningkatkan partisipasi dalam belajar.
2.Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
3.Mengembangkan pola berpikir, karena pada hakikatnya berpikir adalah bertanya.
4.Menuntun proses berpikir siswa, karena dengan pertanyaan yang baik akan membantu siswa dalam menentukan jawaban yang baik.
5.Memusatkan perhatian siswa terhadap permasalahan yang sedang/akan dipelajari atau dibahas.

JENIS-JENIS PERTANYAAN
Menurut maksudnya:
1.Pertanyaan Permintaan
Pertanyaan yang mengharapkan siswa untuk mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pertanyaan.
2.Pertanyaan Retoris
Pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban dari siswa karena akan dijawab sendiri oleh guru dalam rangka penjelasan suatu bahan kajian.
3.Pertanyaan Mengarahkan.
Pertanyaan yang diberikan untuk memberikan arah pada siswa dalam proses berpikirnya untuk menemukan jawaban yang benar (jawaban siswa kurang tepat).
4.Pertanyaan Menggali
Pertanyaan lanjutan yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami jawabannya terhadap pertanyaan yang pertama.

Menurut Taxonomi Bloom
1.Koqnitif
a. Ingatan (C1)
b. Pemahaman (C2)
c. Aplikasi (C3)
d. Analisis (C4)
e. Sintesis (C5)
f. Evalusi (C6)
2.Apektif
a. Nilai
b. Sikap
c. Minat
d. Apresiasi
3.Psikomotor

TEKNIK BERTANYA
1.Kejelasan isi pertanyaan
-Maksud pertanyaan
-Jangan diselingi dengan kata “em, eu, batuk, dll”
2.Kecepatan dan selang waktu
Ucapan harus jelas, tidak tergesa-gesa agar tidak membingungkan siswa.
3.Arah dan distribusi pertanyaan
-Diajukan pada seluruh siswa sehingga semuanya berusaha untuk berpikir.
-Tidak diberikan pada orang tertentu saja (merata)
-Bila tidak ada yang mau menjawab, barulah guru menunjuk salah seorang dari siswa.
4.Teknik penguatan
-Memberikan pujian pada siswa yang berhasil menjawab.
-jangan memvonis siswa yang jawabannya salah.
5.Teknik menuntun dan menggali
Pertanyaan yang menuntun siswa agar dapat memberikan jawaban yang benar.
6.Jangan menimbulkan jawaban serentak.
7.Hindari menjawab pertanyaan sendiri (bandingkan dengan retoris).
8.Jangan mengulang kembali pertanyaan yang diberikan.

MODEL PEMBELAJARAN
Model pembelajaran adalah pola-pola atau strategi yang digunakan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. (bedakan dengan metode/teknik)
Secara umum model pembelajaran terdiri dari:
1.Model Kompetisi
2.Model Individual
3.Model Cooverative Learning

MODEL KOMPETISI
Model kompetisi merupakan suatu strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada suasana persaingan antara siswa.
Dalam suasana kompetisi biasanya bisa muncul rasa cemas yang pada akhirnya timbul motivasi belajar agar menjadi yang terbaik.
Model kompetisi didasari oleh teori behaviorisme yang di dalamnya terkandung prinsip stimulus dan respon. Model pembelajaran ini paling banyak dianut dalam sistem pembelajaran di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari sistem perangkingan yang dilakukan oleh setiap sekolah. Semua siswa berupaya untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya.
Rasa cemas yang tidak terlalu banyak memang dapat menimbulkan motivasi belajar yang tinggi, tetapi bila terjadi berlebihan maka dapat merusak motivasi.
Model kompetisi merupakan suatu strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada suasana persaingan antara siswa.
Dalam suasana kompetisi biasanya bisa muncul rasa cemas yang pada akhirnya timbul motivasi belajar agar menjadi yang terbaik.
Model kompetisi didasari oleh teori behaviorisme yang di dalamnya terkandung prinsip stimulus dan respon. Model pembelajaran ini paling banyak dianut dalam sistem pembelajaran di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari sistem perangkingan yang dilakukan oleh setiap sekolah. Semua siswa berupaya untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya.
Rasa cemas yang tidak terlalu banyak memang dapat menimbulkan motivasi belajar yang tinggi, tetapi bila terjadi berlebihan maka dapat merusak motivasi. Bila model kompetisi ini tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan suasana permusuhan antar siswa. Bahkan untuk menjadi yang terbaik sebagian orang cenderung menghalalkan segala cara. Oleh karena itu rasa tanggung jawab, kesatria, dan kejujuran perlu terus ditanamkan pada anak didik.

Suasana persaingan biasanya terbawa pada saat anak sudah bekerja. Oleh karena itu, kita sering melihat orang berebut untuk menduduki jabatan tertentu dengan berbagai cara.
Perlu ditanamkan kepada siswa bahwa kunci keberhasilan suatu organisasi adalah kerjasama. Tanamkan sikap “biarkan orang lain menang agar aku bisa menang”. Bila hal ini dilakukan maka model kompetisi dapat mencapai hasil yang maksimal.

MODEL INDIVIDUAL
Model individual adalah model pembelajaran yang menitikberatkan terhadap aktivitas belajar anak dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka sendiri. Anak tidak bersaing dengan yang lain tetapi bersaing dengan dirinya sendiri.
Dengan model ini di dalam kelas jarang terjadi interaksi, anak mencari tempat belajar sesuai dengan kebiasaan dan minat belajarnya. Oleh karena itu ruangan belajar perlu ditata sedemikian rupa dan dilengkapi dengan berbagai sarana belajar agar dapat menunjang terhadap kegiatan belajar siswa yang beragam.
Pola penilaian dalam sistem individual yaitu guru menetapkan standar untuk setiap siswa, kemudian siswa berupaya untuk mencapai standar tersebut secara mandiri. Jika siswa mencapai standar atau melampaui standar maka ia akan memperoleh nilai yang tinggi (A atau B) dan bila tidak, akan mendapatkan nilai C, D, bahkan E.
Guru perlu membuat program pembelajaran untuk setiap siswa, memperhatikan perkembangan belajar setiap siswa, memberikan bimbingan, mengetahui kelemahan setiap siswa, memberikan berbagai fasilitas belajar agar diperoleh hasil belajar yang maksimal dari setiap siswa.

Model pembelajaran individual ini memerlukan sarana dan prasarana belajar yang lengkap, guru yang profesional dan sejahtera, jumlah siswa pada setiap kelas tidak terlalu banyak, serta biasanya memerlukan biaya yang mahal karena guru dituntut untuk memberikan perhatian khusus pada keunikan setiap siswa.
Model ini banyak diterapkan di negara barat khususnya Amerika dan belum diterapkan dalam situasi pendidikan formal di indonesia, kecuali secara terbatas di universitas terbuka dengan sistem modulnya.
Dampak negatif dari sistem individual ini yaitu muncul sifat individualistik, tidak peduli terhadap orang lain, dan sukar bermasyarakat. Hal ini wajar, karena falsafah yang mereka anut adalah “percayailah dirimu sendiri dan jangan pedulikan omongan banyak orang” (Ralph Emerson dan Henry David)

MODEL COOPERATIVE LEARNING
Model cooperative learning adalah model pembelajaran yang menitik beratkan pada adanya kerja sama antar siswa dalam mencapai tujuan tertentu.
Falsafah model pembelajaran ini adalah “Homo Homini Socius” yaitu manusia sebagai makhluk sosial. Kerja sama merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk sosial.
Tanpa kerja sama tidak akan ada kehidupan, tidak ada individu, keluarga, organisasi, sekolah, negara, dll. Tanpa kerja sama kehidupan ini sudah punah.

KISAH 1001 MALAM

Seorang guru yang bernama Nazarudin pada saat memasuki kelas.
G:”Tahukah anda yang akan saya ajarkan hari ini?”
M:”Tidak tahu Pak”
G:”Percuma kalau bigitu saya mengajar kalian hari ini.” Kemudian dia pulang.
Hari kedua
G:”Tahukah kalian yang akan diajarkan sekarang”
M:”Tahu Pak.”
G:”Karena kalian sudah tahu, tidak ada gunanya hari ini saya mengajar.” Lalu dia pulang lagi.
M:Bengong…
Hari ketiga
G:”Bagaimana sekarang? Tahu tidak yang akan saya ajarkan?”
M:Ragu (sebagian menjawab tahu, sebagian tidak)
G:Dengan kalem dia menjawab, “Baiklah, jika demikian, saya minta kalian yang tahu harap memberi tahu yang lainnya yang belum tahu!” Lalu dia pun pulang.
Apa yang anda dapat simpulkan dari cerita di atas?

LIMA UNSUR MODEL PEMBELAJARAN COOPERATVE LEARNING
1.Saling ketergantungan positif
Dalam mencapai keberhasilan kelompok biasanya bergantung pada usaha yang dilakukan setiap anggotanya. Adanya ketergantungan antara anggota kelompok yang satu terhadap anggota lainnya dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Misalnya satu kelompok siswa yang terdiri dari empat orang ditugaskan untuk membaca bagian buku yang berlainan. Guru mengevaluasi secara keseluruhan, sehingga setiap siswa akan membimbing siswa yang lainnya agar kelompok mereka berhasil.
2.Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Setiap siswa memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam mengkaji bahan kajian untuk diinformasikan kembali pada anggota kelompoknya. Setiap tugas yang harus dikerjakan setiap siswa, dipersiapkan oleh guru.

3.Tatap muka
Setiap anggota kelompok perlu diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi untuk membicarakan hasil pekerjaannya masing-masing.
4.Komunikasi antar anggota
Guru perlu membekali siswa tentang teknik berkomunikasi yang efektif, tidak menyakiti, dan saling menghargai sebelum kerjasama kelompok dilakukan.
Contoh: “Pendapat anda itu agak berbeda dan unik, tolong jelaskan lagi yang rinci!” akan lebih baik dibandingkan dengan “Pendapat anda aneh dan tidak masuk akal dan salah”. Contoh lain?
5.Evaluasi proses kelompok
Guru perlu terus memantau proses kerja sama antar anggota kelompok, baik dengan observasi, jajak pendapat, maupun angket.

Tugas Membaca:

1. Cooperative Learning
2. Teknik-teknik Pembelajaran Cooperatve Learning
3.Model evaluasi Cooperative Learning
4.Acceleratid Learning
5.Contektual Learning Teaching (CTL)


 
Template designed using TrixTG